Asuhan Keperawatan Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS) Pre Acut / Post Acut Care


LAPORAN PENDAHULUAN

Asuhan Keperawatan KLIEN dengan

ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome)

Pre Acut / Post Acut Care

 

Definisi

Gangguan paru yang progresif dan tiba-tiba ditandai dengan sesak napas yang berat, hipoksemia dan infiltrat yang menyebar dikedua belah paru.

 

Etiologi

ARDS berkembang sebagai akibat kondisi atau kejadian berbahaya berupa trauma jaringan paru baik secara langsung maupun tidak langsung.

 

Faktor Resiko

1. Trauma langsung pada paru

  • Pneumoni virus,bakteri,fungal
  • Contusio paru
  • Aspirasi cairan lambung
  • Inhalasi asap berlebih
  • Inhalasi toksin
  • Menghisap O2 konsentrasi tinggi dalam waktu lama

2. Trauma tidak langsung

  • Sepsis
  • Shock
  • DIC (Dissemineted Intravaskuler Coagulation)
  • Pankreatitis
  • Uremia
  • Overdosis Obat
  • Idiophatic (tidak diketahui)
  •    Bedah Cardiobaypass yang lama
  • Transfusi darah yang banyak
  • PIH (Pregnand Induced Hipertension)
  • Peningkatan TIK
  • Terapi radiasi

 

 

Manifestasi Klinik

1.      Peningkatan jumlah pernapasan

2.      Klien mengeluh sulit bernapas, retraksi dan sianosis

3.      Pada Auskultasi mungkin terdapat suara napas tambahan

 


Penata Laksanaan Medis

Tujuan Terapi :

  • Support pernapasan
  • Mengobati penyebab jika mungkin
  • Mencegah komplikasi.

 

Terapi :

  • Intubasi untuk pemasangan ETT
  • Pemasangan Ventilator mekanik (Positive end expiratory pressure) untuk mempertahankan keadekuatan level O2 darah.
  • Sedasi untuk mengurangi kecemasan dan kelelahan akibat pemasangan ventilator
  • Pengobatan tergantung klien dan proses penyakitnya :

v  Inotropik agent (Dopamine ) untuk meningkatkan curah jantung & tekanan darah.

v  Antibiotik untuk mengatasi infeksi

v  Kortikosteroid dosis besar (kontroversial) untuk mengurangi respon inflamasi dan mempertahankan stabilitas membran paru.

 

Data Dasar Pengkajian

Keadaan-keadaan berikut biasanya terjadi  saat periode latent saat fungsi paru relatif masih terlihat normal (misalnya 12 – 24 jam setelah trauma/shock atau 5 – 10 hari setelah terjadinya sepsis) tapi secara berangsur-angsur memburuk sampai tahapan kegagalan pernafasan. Gejala fisik yang ditemukan amat bervariasi, tergantung daripada pada tahapan mana diagnosis dibuat.

 

Aktivitas & Istirahat

Subyektif        :           Menurunnya tenaga/kelelahan

Insomnia

Sirkulasi

Subyektif           : Riwayat pembedahan jantung/bypass cardiopulmonary, fenomena embolik (darah, udara, lemak)

Obyektif             : Tekanan darah bisa normal atau meningkat (terjadinya hipoksemia), hipotensi terjadi pada stadium lanjut (shock).

Heart rate : takikardi biasa terjadi

Bunyi jantung : normal pada fase awal, S2 (komponen pulmonic) dapat terjadi

Disritmia dapat terjadi, tetapi ECG sering menunjukkan normal

Kulit dan membran mukosa : mungkin pucat, dingin. Cyanosis biasa terjadi (stadium lanjut)

Integritas Ego

Subyektif           :  Keprihatinan/ketakutan, perasaan dekat dengan kematian

Obyektif             :  Restlessness, agitasi,  gemetar, iritabel, perubahan mental.

 

Makanan/Cairan

Subyektif           :  Kehilangan selera makan, nausea

Obyektif             :  Formasi edema/perubahan berat badan

Hilang/melemahnya bowel sounds

 

Neurosensori

Suby./Oby.         :  Gejala truma kepala

Kelambanan mental, disfungsi motorik

Respirasi

Subyektif           :  Riwayat aspirasi, merokok/inhalasi gas, infeksi pulmolal diffuse

Kesulitan bernafas akut atau khronis, “air hunger”

Obyektif             : Respirasi : rapid, swallow, grunting

Peningkatan kerja nafas ; penggunaan otot bantu pernafasan seperti retraksi intercostal atau substernal, nasal flaring, meskipun kadar oksigen tinggi.

Suara nafas : biasanya normal, mungkin pula terjadi crakles, ronchi, dan suara nafas bronkhial

Perkusi dada :  Dull diatas area konsolidasi

Penurunan dan tidak seimbangnya ekpansi dada

Peningkatan fremitus (tremor vibrator pada dada yang ditemukan dengan cara palpasi.

Sputum encer, berbusa

Pallor atau cyanosis

Penurunan kesadaran, confusion

Rasa aman

Subyektif           :  Adanya riwayat trauma tulang/fraktur, sepsis, transfusi darah, episode anaplastik

Seksualitas

Suby./Oby.         :  Riwayat kehamilan dengan komplikasi eklampsia

 

Kebutuhan belajar

Subyektif           :  Riwayat ingesti obat/overdosis

Discharge Plan            :           Ketergantungan sebagai efek dari kerusakan pulmonal, mungkin membutuhkan asisten saat bepergian, shopping, self-care.

Study Diagnostik

-      Chest X-Ray

-      ABGs/Analisa gas darah

-      Pulmonary Function Test

-      Shunt Measurement (Qs/Qt)

-      Alveolar-Arterial Gradient (A-a gradient)

-      Lactic Acid Level

Prioritas Keperawatan

1.      Memperbaiki/mempertahankan fungsi respirasi optimal dan oksigenasi

2.      Meminimalkan/mencegah komplikasi

3.      Mempertahankan nutrisi adekuat untuk penyembuhan/membantu fungsi pernafasan

4.      Memberikan support emosi kepada pasien dan keluarga

5.      Memberikan informasi tentang proses penyakit, prognose, dan kebutuhan pengobatan

 

Tujuan Keperawatan

1.      Bernafas spontan dengan tidal volume adekuat

2.      Suara nafas bersih/membaik

3.      Bebas sari terjadinya komplikasi

4.      Memandang secara realistis terhadap situasi

5.      Proses penyakit, prognosis dan therapi dapat dimengerti

Diagnosa Keperawatan

1.      Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal, peningkatan resistensi jalan nafas ditandai dengan : dispneu, perubahan pola nafas, penggunaan otot pernafasan, batuk dengan atau tanpa sputum, cyanosis.

2.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolar hipoventilasi, penumpukan cairan di permukaan alveoli, hilangnya surfaktan pada permukaan alveoli ditandai dengan : takipneu, penggunaan otot-otot bantu pernafasan, cyanosis, perubahan ABGs, dan A-a Gradient.

3.      Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan penggunaan deuritik, ke-luaran cairan kompartemental

4.      Resiko tinggi kelebihan volome cairan berhubungan dengan edema pulmonal non Kardia.

5.      Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran balik vena dan penurunan curah jantung,edema,hipotensi.

6.      Pola napas tidak efektif berhubungan dengan pertukaran gas tidak adekuat,pening katan sekresi,penurunan kemampuan untuk oksigenasi dengan adekuat atau kelelahan.

7.      Cemas/takut berhubungan dengan krisis situasi, pengobatan , perubahan status kesehatan, takut mati, faktor fisiologi (efek hipoksemia) ditandai oleh mengekspresikan masalah yang sedang dialami, tensi meningkat, dan merasa tidak berdaya, ketakutan, gelisah.

8.      Defisit pengetahuan , mengenai kondisi , terafi yang dibutuhkan  berhubungan dengan kurang informasi, salah presepsi dari informasi yang ditandai dengan mengajukan pertanyaan , menyatakan masalahnya.

Intervensi dan Rasional

  1. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas, peningkatan sekret pulmonal, peningkatan resistensi jalan nafas ditandai dengan : dispneu, perubahan pola nafas, penggunaan otot pernafasan, batuk dengan atau tanpa sputum, cyanosis.

Tujuan :

-      Pasien dapat mempertahankan jalan nafas dengan bunyi nafas yang jernih dan ronchi (-)

-      Pasien bebas dari dispneu

-      Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan

-      Memperlihatkan tingkah laku mempertahankan jalan nafas

Tindakan :

Independen

-      Catat perubahan dalam bernafas dan pola nafasnya

Penggunaan otot-otot interkostal/abdominal/leher dapat meningkatkan usaha dalam bernafas

-      Observasi dari penurunan pengembangan dada dan peningkatan fremitus

Pengembangan dada dapat menjadi batas dari akumulasi cairan dan adanya cairan dapat meningkatkan fremitus

-      Catat karakteristik dari suara nafas

Suara nafas terjadi karena adanya aliran udara melewati batang tracheo branchial dan juga karena adanya cairan, mukus atau sumbatan lain dari saluran nafas

-      Catat karakteristik dari batuk

Karakteristik batuk dapat merubah ketergantungan pada penyebab dan etiologi dari jalan nafas. Adanya sputum dapat dalam jumlah yang banyak, tebal dan purulent

-      Pertahankan posisi tubuh/posisi kepala dan gunakan jalan nafas tambahan bila perlu

Pemeliharaan jalan nafas bagian nafas dengan paten

-      Kaji kemampuan batuk, latihan nafas dalam, perubahan posisi dan lakukan suction bila ada indikasi

Penimbunan sekret mengganggu ventilasi dan predisposisi perkembangan atelektasis dan infeksi paru

-      Peningkatan oral intake jika memungkinkan

Peningkatan cairan per oral dapat mengencerkan sputum

Kolaboratif

-      Berikan oksigen, cairan IV ; tempatkan di kamar humidifier sesuai indikasi

Mengeluarkan sekret dan meningkatkan transport oksigen

-      Berikan therapi aerosol, ultrasonik nabulasasi

Dapat berfungsi sebagai bronchodilatasi dan mengeluarkan sekret

-      Berikan fisiotherapi dada misalnya : postural drainase, perkusi dada/vibrasi jika ada indikasi

Meningkatkan drainase sekret paru, peningkatan efisiensi penggunaan otot-otot pernafasan

-      Berikan bronchodilator misalnya : aminofilin, albuteal dan mukolitik

Diberikan untuk mengurangi bronchospasme, menurunkan viskositas sekret dan meningkatkan ventilasi

  1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan alveolar hipoventilasi, penumpukan cairan di permukaan alveoli, hilangnya surfaktan pada permukaan alveoli ditandai dengan : takipneu, penggunaan otot-otot bantu pernafasan, cyanosis, perubahan ABGs, dan A-a Gradient.

Tujuan :

-      Pasien dapat memperlihatkan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat dengan nilai ABGs normal

-      Bebas dari gejala distress pernafasan

Tindakan :

Independen

-      Kaji status pernafasan, catat peningkatan respirasi atau perubahan pola nafas

Takipneu adalah mekanisme kompensasi untuk hipoksemia dan peningkatan usaha nafas

-      Catat ada tidaknya suara nafas dan adanya bunyi nafas tambahan seperti crakles, dan wheezing

Suara nafas mungkin tidak sama atau tidak ada ditemukan. Crakles terjadi karena peningkatan cairan di permukaan jaringan yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas membran alveoli – kapiler. Wheezing terjadi karena bronchokontriksi atau adanya mukus pada jalan nafas

-      Kaji adanya cyanosis

Selalu berarti bila diberikan oksigen (desaturasi 5 gr dari Hb) sebelum cyanosis muncul. Tanda cyanosis dapat dinilai pada mulut, bibir yang indikasi adanya hipoksemia sistemik, cyanosis perifer seperti pada kuku dan ekstremitas adalah vasokontriksi.

-      Observasi adanya somnolen, confusion, apatis, dan ketidakmampuan beristirahat

Hipoksemia dapat menyebabkan iritabilitas dari miokardium

-      Berikan istirahat yang cukup dan nyaman

Menyimpan tenaga pasien, mengurangi penggunaan oksigen

Kolaboratif

-      Berikan humidifier oksigen dengan masker CPAP jika ada indikasi

Memaksimalkan pertukaran oksigen secara terus menerus dengan tekanan yang sesuai

-      Berikan pencegahan IPPB

Peningkatan ekspansi paru meningkatkan oksigenasi

-      Review X-ray dada

Memperlihatkan kongesti paru yang progresif

-      Berikan obat-obat jika ada indikasi seperti steroids, antibiotik, bronchodilator dan ekspektorant

Untuk mencegah ARDS

  1. Resiko tinggi defisit volume cairan

Faktor resiko : penggunaan deuritik, keluaran cairan kompartemental

Tujuan :

pasien dapat menunjukkan keadaan volume cairan normal dengan tanda tekanan darah, berat badan, urine output pada batas normal.

Tindakan :

Independen

-      Monitor vital signs seperti tekanan darah, heart rate, denyut nadi (jumlah dan volume)

Berkurangnya volume/keluarnya cairan dapat meningkatkan heart rate, menurunkan tekanan darah, dan volume denyut nadi menurun.

-      Amati perubahan kesadaran, turgor kulit, kelembaban membran mukosa dan karakter sputum

Penurunan cardiac output mempengaruhi perfusi/fungsi cerebral. Deficit cairan dapat diidentifikasi dengan penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, sekret kental.

-      Hitung intake, output dan balance cairan. Amati “insesible loss”

Memberikan informasi tentang status cairan. Keseimbangan cairan negatif merupakan indikasi terjadinya deficit cairan.

-      Timbang berat badan setiap hari

Perubahan yang drastis merupakan tanda penurunan total body water

Kolaboratif

-      Berikan cairan IV dengan observasi ketat

Mempertahankan/memperbaiki volume sirkulasi dan tekanan osmotik. Meskipun cairan mengalami deficit, pemberian cairan IV dapat meningkatkan kongesti paru yang dapat merusak fungsi respirasi

-      Monitor/berikan penggantian elektrolit sesuai indikasi

Elektrolit khususnya pottasium dan sodium dapat berkurang sebagai efek therapi deuritik.

 

  1. Cemas/takut berhubungan dengan krisis situasi, pengobatan , perubahan status kesehatan, takut mati, faktor fisiologi (efek hipoksemia) ditandai oleh mengekspresikan masalah yang sedang dialami, tensi meningkat, dan merasa tidak berdaya, ketakutan, gelisah.

Tujuan :

-      Pasien dapat mengungkapkan perasaan cemasnya secara verbal

-      Mengakui dan mau mendiskusikan ketakutannya, rileks dan rasa cemasnya mulai berkurang

-      Mampu menanggulangi, mampu menggunakan sumber-sumber pendukung untuk memecahkan masalah yang dialaminya.

Tindakan

Independen:

-      Observasi peningkatan pernafasan, agitasi, kegelisahan dan kestabilan emosi.

Hipoksemia dapat menyebabkan kecemasan.

-      Pertahankan lingkungan yang tenang dengan meminimalkan stimulasi. Usahakan perawatan dan prosedur tidak menggaggu waktu istirahat.

Cemas berkurang oleh meningkatkan relaksasi dan pengawetan energi yang digunakan.

-      Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi.

Memberi kesempatan untuk pasien untuk mengendalikan kecemasannya dan merasakan sendiri dari pengontrolannya.

-          Identifikasi persepsi pasien dari pengobatan yang dilakukan

Menolong mengenali asal kecemasan/ketakutan yang dialami

-          Dorong pasien untuk mengekspresikan kecemasannya.

Langkah awal dalam mengendalikan perasaan-perasaan yang teridentifikasi dan terekspresi.

-          Membantu menerima situsi dan hal tersebut harus ditanggulanginya.

Menerima stress yang sedang dialami tanpa denial, bahwa segalanya akan menjadi lebih baik.

-          Sediakan informasi tentang keadaan yang sedang dialaminya.

Menolong pasien untuk menerima apa yang sedang  terjadi dan dapat mengurangi kecemasan/ketakutan apa yang tidak diketahuinya. Penentraman hati yang palsu tidak menolong sebab tidak ada perawat maupun pasien tahu hasil akhir dari permasalahan itu.

-          Identifikasi tehnik pasien yang digunakan sebelumnya untuk menanggulangi rasa cemas.

Kemampuan yang dimiliki pasien akan meningkatkan sistem pengontrolan terhadap kecemasannya

Kolaboratif

-          Memberikan sedative sesuai indikasi dan monitor efek yang merugikan.

Mungkin dibutuhkan untuk menolong dalam mengontrol kecemasan dan meningkatkan istirahat. Bagaimanapun juga efek samping seperti depresi pernafasan mungkin batas atau kontraindikasi penggunaan.

  1. Defisit pengetahuan , mengenai kondisi , terafi yang dibutuhkan  berhubungan dengan kurang informasi, salah presepsi dari informasi yang ditandai dengan mengajukan pertanyaan , menyatakan masalahnya.

Tujuan :

-          Pasien dapat menerangkan hubungan antara proses penyakit dan terafi

-          Menjelaskan secara verbal diet, pengobatan dan cara beraktivitas

-          Mengidentifikasi  dengan benar tanda dan gejala yang membutuhkan perhatian medis

-          Memformulasikan rencana untuk follow –up

Tindakan :

Independen

-          Berikan pembelajaran dari apa yang dibutuhkan pasien. Berikan informasi dengan jelas dan dimengerti. Kaji potensial untuk kerjasama dengan cara pengobatan di rumah. Meliputi hal yang dianjurkan.

Penyembuhan dari gagal nafas mungkin memerlukan perhatian, konsentrasi dan energi untuk menerima informasi baru. Ini meliputi tentang proses penyakit yang akan menjadi berat atau yang sedang mengalami penyembuhan.

-          Sediakan informasi masalah penyebab dari penyakit yang sedang dialami pasien.

ARDS adalah sebuah komplikasi dari penyakit lain, bukan merupakan diagnosa primer. Pasien sering bingung oleh perkembangan itu, dalam k esehatan sistem respirasi sebelumnya.

-          Instruksikan tindakan pencegahan, jika dibutuhkan. Diskusikan cara menghindari overexertion dan perlunya mempertahankan pola istirahat yang periodik. Hindari lingkungan yang dingin dan orang-orang terinfeksi.

Pencegahan perlu dilakukan selama tahap penyembuhan. Hindari faktor yang disebabkan oleh lingkungan seperti merokok. Reaksi alergi atau infeksi yang mungkin terjadi untuk mencegah komplikasi berikutnya.

-          Sediakan informasi baik secara verbal atau tulisan mengenai pengobatan misalnya: tujuan, efek samping, cara pemberian , dosis dan kapan diberikan

Merupakan instruksi bagi pasien untuk keamanan pengobatan dan cara-cara pengobatan dapat diikutinya.

-          Kaji kembali konseling tentang nutrisi ; kebutuhan makanan tinggi kalori

Pasien dengan masalah respirasi yang berat biasanya kehilangan berat-badan dan anoreksia sehingga kebutuhan nutrisi meningkat untuk penyembuhan.

-          Bimbing dalam melakukan aktivitas.

Pasien harus menghindari kelelahan dan menyelingi waktu istirahat dengan aktivitas dengan tujuan meningkatkan stamina dan cegah hal yang membutuhkan oksigen yang  banyak

-          Demonstrasikan teknik adaptasi pernafasan dan cara untuk menghemat energi   selama aktivitas.

Kondisi yang lemah mungkin membuat kesulitan untuk pasien mengatur aktivitas yang sederhana.

-          Diskusikan follow-up care misalnya kunjungan dokter, test fungsi sistem pernafasan dan tanda/gejala yang membutuhkan evaluasi/intervensi.

Alasan mengerti dan butuh untuk follow up care sebaik dengan apa yang merupakan kebutuhan untuk meningkatkan partisipasi pasien dalam hal medis dan mungkin mempertinggi kerjasama dengan medis.

-          Kaji rencana untuk mengunjungi pasien seperti kunjungan perawat

Mendukung selama periode penyembuhan


DAFTAR PUSTAKA

 

Carpenito,Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.EGC. Jakarta.

 

Doengoes, M.E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan        dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC. Jakarta.

 

Hudak, Gall0. 1997. Keperawatan Kritis. Pendekatan Holistik.Ed.VI. Vol.I. EGC.            Jakarta.

 

Asuhan Keperawatan Kistoma Ovarium / Kista Ovari


A. PENGERTIAN
Kistoma ovari merupakan suatu tumor, baik yang kecil maupun yang besar, kistik atau padat, jinak atau ganas (Winkjosastro. et.all. 1999).
Dalam kehamilan tumor ovarium yang dijumpai yang paling sering adalah kista dermonal, kista coklat atau kista lutein, tumor ovarium yang cukup besar dapat disebabkan kelainan letak janin dalam rahim atau dapat menghalang-halangi masuknya kepala kedalam panggul.
Kiste ovarii adalah tumor jinak pada ovarium. Merupakan tumor paling banyak pada wanita usia 20 – 40 th.
Kista adalah suatu jenis tumor, penyebab pastinya sendiri belum diketahui, diduga seringnya memakai kesuburan (Soemadi, 2006).
Kista adalah suatu jenis tumor berupa kantong abnormal yang berisi cairan atau benda seperti bubur (Dewa, 2000).
Kista adalah suatu bentukan yang kurang lebih bulat dengan dinding tipis, berisi cairan atau bahan setengah cair (Sjamsuhidajat, 1998).
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan / abnormal pada ovarium yang membentuk seperti kantong (Agusfarly, 2008).
Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium.
Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di mana saja dan jenisnya bermacam-macam. Kista yang berada di dalam atau permukaan ovarium (indung telur) disebut kista ovarium atau tumor ovarium.
Kista ovarium sering terjadi pada wanita di masa reproduksinya. Sebagian besar kista terbentuk karena perubahan kadar hormon yang terjadi selama siklus haid, produksi dan pelepasan sel telur dari ovarium.

B. JENIS-JENIS KISTOMA OVARI
Menurut etiologi, kista ovarium dibagi menjadi 2, yaitu : (Ignativicus, bayne, 1991)
1. Kista non neoplasma
Disebabkan karena ketidak seimbangan hormon esterogen dan progresterone diantaranya adalah :
a. Kista non fungsional
Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epitelium yang berkurang di dalam korteks
b. Kista fungsional
Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler di antara siklus menstruasi. Banyak terjadi pada wanita yang menarche kurang dari 12 tahun.
Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi progesterone setelah ovulasi.
Kista tuba lutein, disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola hidatidosa.
Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH yang menyebabkan hiperstimuli ovarium.
2. Kista neoplasma (Winjosastro. et.all 1999)
a. Kistoma ovarii simpleks
Adalah suatu jenis kista deroma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista
b. Kistodenoma ovarii musinoum
Asal kista ini belum pasti, mungkin berasal dari suatu teratoma yang pertumbuhanya I elemen mengalahkan elemen yang lain
c. Kistadenoma ovarii serosum
Berasal dari epitel permukaan ovarium (Germinal ovarium)
d. Kista Endrometreid
Belum diketahui penyebab dan tidak ada hubungannya dengan endometroid
e. Kista dermoid
Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis

C. ETIOLOGI
Faktor yang menyebabkan gajala kista meliputi; Gaya hidup tidak sehat, diantaranya;
1. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
2. Zat tambahan pada makanan
3. Kurang olah raga
4. Merokok dan konsumsi alcohol
5. Terpapar denga polusi dan agen infeksius
6. Sering stress
Faktor genetik
Dalam tubuh kita terdapat gen-gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen, polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

C. PATHOFISIOLOGI
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 – 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan.
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG. Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan diabetes, HCg menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan pemberian HCG.
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal.
Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik. Pada sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan multipel kistik berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram. Kista-kista itu sendiri bukan menjadi problem utama dan diskusi tentang penyakit tersebut diluar cakupan artikel ini.

D. TANDA DAN GEJALA
Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit nyeri yang tidak berbahaya. Tetapi adapula kista yang berkembang menjadi besar dan menimpulkan nyeri yang tajam. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker ovarium.
Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh Anda untuk mengetahui gejala mana yang serius. Gejala-gejala berikut mungkin muncul bila anda mempunyai kista ovarium:
1. Perut terasa penuh, berat, kembung
2. Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil)
3. Haid tidak teratur
4. Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke punggung bawah dan paha.
5. Nyeri sanggama
6. Mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada saat hamil.
Gejala-gejala berikut memberikan petunjuk diperlukan penanganan kesehatan segera:
1. Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba
2. Nyeri bersamaan dengan demam
3. Rasa ingin muntah

E. KOMPLIKASI
Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas terjadinya kanker ovarium pada wanita diatas 40 tahun. Mekanisme terjadinya kanker masih belum jelas namun dianjurkan pada wanita yang berusia diatas 40 tahun untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kanker ovarium.
Faktor resiko lain yang dicurigai adalah penggunaan kontrasepsi oral terutama yang berfungsi menekan terjadinya ovulasi. Maka dari itu bila seorang wanita usia subur menggunakan metode konstrasepsi ini dan kemudian mengalami keluhan pada siklus menstruasi, lebih baik segera melakukan pemeriksaan lengkap atas kemungkinan terjadinya kanker ovarium.

F. PROGNOSIS
William Helm, C. 2005. Dkk mengatakan : Prognisis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral.
Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan dengan stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini sering ditemukan sudah dalam stadium akhir.
Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41.6%, bervariasi antara 86.9% untuk stadium FIGO Ia dan 11.1% untuk stadium IV.
Tumor sel granuloma memiliki angka bertahan hidup 82% sedangakan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk.
Sebagian besar tumor sel germinal yang terdiagnosis pada stadium awal memiliki prognosis yang sangat baik. Disgerminoma dengan stadium lanjut berkaitan dengan prognosis yang lebih baik dibandingkan germinal sel tumor nondisgerminoma.
Tumor yang lebih tidak agresif dengan potensi keganasan yang rendah mempunyai sifat yang lebih jinak tetapi tetap berhubungan dengan angka kematian yang tinggi. Secara keseluruhan angka bertahan hidup selama 5 tahun adalah 86.2%

G. PENATALAKSANAAN
Pengobatan kiste ovarii yang besar biasanya adalah pengangkatan melalui tindakan bedah. Jika ukuran lebar kiste kurang dari 5 cm dan tampak terisi oleh cairan atau fisiologis pada pasien muda yang sehat, kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kiste.
Perawatan paska operatif setelah pembedahan serupa dengan perawatan pembedahan abdomen. Penurukan tekanan intraabdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kiste yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat, komplikasi ini dapat dicegah dengan pemakaian gurita abdomen yang ketat.

H. PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Tanpa memandang bentuk, proses penyembuhan luka adalah sama dengan yang lainnya. Perbedaan terjadi menurut waktu pada tiap-tiap fase penyembuhan dan waktu granulasi jaringan (long. 1996).
Fase-fase penyembuhan luka antara lain :
1. Fase I
Pada fase ini Leukosit mencerna bakteri dan jaringan rusak terbentuk fibrin yang menumpuk mengisi luka dari benang fibrin. Lapisan dari sel epitel bermigrasi lewat luka dan membantu menutupi luka, kekuatan luka rendah tapi luka dijahit akan menahan jahitan dengan baik.
2. Fase II
Berlangsung 3 sampai 14 hari setelah bedah, leukosit mulai menghilang dan ceruk mulai kolagen serabut protein putih semua lapisan sel epitel bergenerasi dalam satu minggu, jaringan ikat kemerahan karena banyak pembuluh darah. Tumpukan kolagen akan menunjang luka dengan baik dalam 6-7 hari, jadi jahitan diangkat pada fase ini, tergantung pada tempat dan liasanya bedah.
3. Fase III
Kolagen terus bertumpuk, hal ini menekan pembuluh darah baru dan arus darah menurun. Luka sekarang terlihat seperti berwarna merah jambu yang luas, terjadi pada minggu ke dua hingga enam post operasi, pasien harus menjaga agar tak menggunakan otot yang terkena.
4. Fase IV
Berlangsung beberapa bulan setelah pembedahan, pasien akan mengeluh, gatal disekitar luka, walau kolagen terus menimbun, pada waktu ini menciut dan menjadi tegang. Bila luka dekat persendian akan terjadi kontraktur karena penciutan luka dan akan terjadi ceruk yang berlapis putih.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemastian diagnosis untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan pemeriksaan:
1. Ultrasonografi (USG)
Tindakan ini tidak menyakitkan, alat peraba (transducer) digunakan untuk mengirim dan menerima gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) yang menembus bagian panggul, dan menampilkan gambaran rahim dan ovarium di layar monitor. Gambaran ini dapat dicetak dan dianalisis oleh dokter untuk memastikan keberadaan kista, membantu mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Laparoskopi
Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui pembedahan kecil di bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium, menghisap cairan dari kista atau mengambil bahan percontoh untuk biopsi.

J. PENGKAJIAN
1. Data diri klien
2. Data biologis/fisiologis –> keluhan utama, riwayat keluhan utama
3. Riwayat kesehatan masa lalu
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Riwayat reproduksi –> siklus haid, durasi haid
6. Riwayat obstetric –> kehamilan, persalinan, nifas, hamil
7. Pemeriksaan fisik
8. Data psikologis/sosiologis–> reaksi emosional setelah penyakit diketahui

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI
a. Preoperasi
1. Nyeri kronis b/d putaran tangkai kiste.
2. Cemas b/d diagnosis dan rencana pembedahan
3. PK perdarahan
b. Post operasi
1. Nyeri akut b/d luka insisi pembedahan
2. Resiko infeksi b/d tindakan invasif dan pembedahan

DAFTAR PUSTAKA

Capenito, LJ.(2001). Buku Saku Keperawatan, Edisi VIII. Penerjemah Monica Ester, SKp. Jakarta : EGC.
Engram, Barbara. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah, Vol.3. Jakarta : EGC.
Farrer, Helen. (2001). Maternity Care, Edisi II. Jakarta: EGC.
http://www.blogdokter.net/2008/05/30/kista-ovarium/. Diakses tanggal 02 Juni 2009.
http://fordearest.wetpaint.com/page/kista+ovarium. Diakses tanggal 02 Juni 2009.
http://medlinux.blogspot.com/2007/09/kistoma ovarii.html. Diakses tanggal 02 Juni 2009.
Ignatividus Donna, Bayne Varner Marihenn (1991). Medical Surgical Nursing : Anurse Process Approch. USA : W.B. Sounders Company.
Long Barbara. C (1996). Keperawatan Medical Bedah, Edisi II, USA. The CV Mousby Company.
NANDA 2005, Nursing diagnoses : Definition and classification 2005-2006, NANDA International, Philadelphia.

Ropper, Nancy. (1996). Prinsip-prinsip Keperawatan. Alih bahasa Andry Hartono Yogyakarta. Yayasan Essentia Medika
Wiknjosastro.et.all. (1999). Ilmu kandungan, Edisi II. Jakarta : YBP SP
William Helm, C. Ovarian Cysts. 2005 American College of Obstetricians and Gynecologists ( cited 2005 September 16 ). Available at http://emedicine.com
Wilkinson, J. W 2006, Buku saku diagnosis keperawatan dengan intervensi NIC dan kriteria hasil NOC, Edisi 7, EGC, Jakarta.

Asuhan Keperawatan Depresi


1. PENGERTIAN DEPRESI

Depresi merupakan gangguan psikis yang dapat menurunkan alam kesadaran seseorang, sehingga seseorang yang terkena depresi akan terganggu aktifitasnya. Ada banyak pengertian tentang arti depresi, Depresi adalah penyakit suasana hati. Penyakit dari sekitar kesedihan atau duka cita. “Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan”(HTTP://www.e-psikologi.com/masalah/index.htm)depresi). Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia baik fungsi psikis mupun fungsi fisik, yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotorik, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri.(ilmu kedokteran jiwa darurat halm 227)

Depresi tidak hanya menggambarkan suasana hati, tetapi juga meliputi perubahan dalam pemikiran, perilaku, dan biologis kita. Jika hal tersebut dibiarkan maka akan sangat berbahaya karena akan mempengaruhi keseimbangan hubungan diri kita dengan lingkungan. Depresi dapat menurunkan fungsi kognitif, emosi dan produktifitas pada individu.

2. JENIS DAN TINGKATAN DEPRESI

Pembagian depresi dimaksudkan untuk mempermudah dalam mengambil tindakan perawatan dan pengobatan. Ada tiga tingkatan dalam depresi antara lain :

2.1 Depresi Sesaat

Depresi sesaat terjadi karena kita bereaksi terhadap keadaan yang teradi, misalnya path hati. Depresi ini terbilang tingkat ringan karena kemudian bisa hilang begitu kondisi tak menyenangkan dilalui. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasi depresi ini, karena jika kita menemukan sesuatu yang baru maka depresi ini akan hilang dengan sendirinya

2.2 Depresi Neurotik

Penyembuhan depresi ini memakan waktu bertahun dan lebih sering ditemukan di antara orang-orang yang tidak menikah, pengguna narkoba dan alkoholik. Dari sana menunjukkan bahwa kasus depresi bisa terjadi pada orang segala usia. Tidak hanya orang dewasa tetapi juga pada orang yang sangat tua maupun anak

2.3 Depresi Berat

Pada orang yang terkena gangguan depresi neurotik, sekitar 40 persen menjadi depresi berat. Tingkat depresi berat itu adalah yang paling parah karena sebagian menjadi gila dan mendapat perawatan rumah sakit. Biasanya kerja mulai terganggu atau tidak bisa bekerja. Sedangkan depresi neurotik, biasanya diri sendiri merasa terganggu tetapi dari luar belum kentara terganggu kualitasnya. Terganggu pada pekerjaan tetapi masih bisa berjalan. Pada tingkatan depresi berat penderita harus selalu mendapatkan perawatan yang intensif baik dari segi medis maupun melalui psikiater.

3. PENYEBAB DEPRESI

Pada intinya, depresi merupakan suatu kondisi di mana alam perasaan seseorang itu turun ke posisi yang terendah. Sekalipun penyebab persis depresi tidak diketahui, tetapi bisa diduga faktor-faktor yang mendukung terjadinya depresi

Macam-macam penyebab depresi :

1.      Mengalami kekecewaan yang berat dalam hidupnya

2.      Tidak berhasil mencapai suatu keinginan

3.      Kehilangan orang yang paling dicintai

4.      Tuntutan terhadap anak

5.      Pertengkaran hebat antar pasangan

6.      Derita penyakit berkepanjangan

7.      Masalah keuangan

8.      Persaingan karier

9.      Rendahnya harga diri

10.  Kesulitan menjalin hubungan dengan pasangan dan relasi

11.  Gangguan hormonal

Sebab-sebab depresi di atas merupakan penyebab depresi yang terjadi karena hubungan soial penderita. Beberapa obat yang dipakai untuk mengobati HIV dapat menyebabkan atau memperburuk depresi, terutama efavirenz. Ada beberapa penyakit misalnya anemia atau diabetes yang dapat menyebabkan gejala serupa dengan depresi, begitu juga dengan penggunaan narkoba atau alkohol, serta testosteron, vitamin B6 atau vitamin B12 yang rendah

4. GEJALA DEPRESI

Pasien depresif tidak selalu mengeluh adanya sedih. Mereka mungkin mudah tersinggung dan banyak keluhan fisik. Gejala deperesi berbeda-beda tergantung pada pasien yang bersangkutan. Kebanyakan dokter mencurigai depresi bila pasien melaporkan bahwa dia merasa sedih atau kehilangan gairah untuk kegiatan sehari-hari. Kemungkinan kita mengalami depresi bila perasaan ini tetap berlanjut selama dua minggu atau lebih.

Sebelum kita menjelajah lebih jauh untuk mengenali gejala depresi, ada baiknya jika kita mengenal apakah artinya gejala. Gejala merupakan sekumpulan peristiwa, perilaku atau perasaan yang sering (namun tidak selalu) muncul pada waktu bersamaan. Gejala depresi merupakan kumpulan dari perilaku dan perasaan yang secara spesifik dan mempengaruhi fisik maupun psikis seseorang, serta dapat dikelompokkan sebagai depresi[1]. Namun yang perlu diingat, setiap orang mempunyai perbedaan yang mendasar, yang memungkinkan suatu peristiwa atau perilaku dihadapi secara berbeda dan memunculkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik dan sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya konsentrasi dan menurunnya daya tahan. Gejala-gejala depresi dapat dikelompokkan menjadi tiga gejala yaitu gejala dari segi fisik, psikis, dan sosial. Untuk lebih jelasnya, kita lihat uraian di bawah ini

4.1 GEJALA FISIK

Menurut para ahli, gejala depresi yang kelihatan secara fisik mempunyai rentangan dan variasi yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Namun secara garis besar ada beberapa gejala fisik umum yang mudah untuk dideteksi. Gejala-gejala tersebut antara lain :

§  Gangguan pola tidur, baik mengalami kesulitan untuk tidur, terlalu sedikit maupun terlalu banyak

§  Perubahan perilaku, pada umumnya, orang yang mengalami depresi menunjukkan perilaku yang pasif, suka pada kegiatan yang tidak melibatkan orang lain seperti nonton TV, makan, tidur

§  Aktivitas menurun, dan mudah capek. Orang yang terkena depresi akan kehilangan sebagian atau seluruh motivasi kerjanya. Sebabnya, ia tidak lagi bisa menikmati dan merasakan kepuasan atas apa yang dilakukannya. Ia sudah kehilangan minat dan motivasi untuk melakukan kegiatan seperti semula. Oleh karena itu, keharusan untuk tetap beraktifitas membuat penderita semakin kehilangan energi karena energi yang ada sudah banyak terpakai untuk mempertahankan diri agar tetap dapat berfungsi seperti biasanya. Penderita mudah sekali lelah, capek padahal belum melakukan aktifitas yang berarti

§  Semangat kerja menurun, tidak konsentrasi terhadap pekerjaan. Penyebabnya  jelas orang yang terkena depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada suatu hal, atau pekerjaan. Sehingga, mereka juga akan sulit memfokuskan energi pada hal-hal prioritas. Kebanyakan yang dilakukan justru hal-hal yang tidak efesien dan tidak berguna, seperti misalnya ngemil, melamun, merokok terus-menerus, sering menelepon yang tidak perlu. Yang jelas, orang yang terkena depresi akan terlihat dari metode kerjanya kurang terstruktur, sistematika kerjanya jadi kacau atau kerjanya jadi lamban

§  Nafsu makan berkurang dan kehilangan berat badan

4.2 GEJALA PSIKIS

gejala psikis adalah segala sesuatu yang menyangkut emosi dan tingkah laku seseorang, seseorang yang mengalami depresi akan mengalami perubahan tingkah laku dan watak yang mencolok sekali. Berikut adalah gejala-gejala psikis yang dapat dialami oleh para penderita depresi

§  Kehilangan rasa percaya diri. Penyebabnya, orang yang mengalami depresi cenderung memandang segala sesuatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri. Pasti mereka senang sekali membandingkan dirinya dengan orang lain. Orang lain dinilai lebih sukses, pandai, beruntung, kaya, lebih berpendidikan, lebih berpengalaman, lebih diperhatikan oleh atasan, dan pikiran negatif lainnya

§  Sensitif. Orang yang mengalami depresi senang sekali mengkaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Perasaannya sensitif sekali, sehingga sering peristiwa yang netral dipandang dari sudut pandang yang berbeda oleh penderita, bahkan disalahartikan. Akibatnya, mereka penderita mudah marah, mudah tersinggung, perasa, curiga akan maksud orang lain (yang sebenarnya tidak ada apa-apa), mudah sedih, murung, dan lebih suka menyendiri.

§  Merasa diri tidak berguna. Perasaan tidak berguna ini muncul karena mereka merasa menjadi orang yang gagal terutama di bidang atau lingkungan yang seharusnya penderita kuasai. Misalnya, seorang manajer mengalami depresi karena ia dimutasikan ke bagian lain. Dalam persepsinya, permutasian itu disebabkan ketidakmampuannya dalam bekerja dan pimpinan menilai dirinya tidak cukup memberikan kontribusi sesuai dengan yang diharapkan.

§  Perasaan bersalah. Perasaan bersalah kadang timbul dalam pemikiran orang yang mengalami depresi. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan. Banyak pula yang merasa dirinya menjadi beban bagi orang lain dan menyalahkan diri mereka atas situasi tersebutr.

§  Perasaan terbebani. Banyak orang menyalahkan orang lain atas kesusahan yang dialaminya. Mereka merasa terbeban berat karena merasa terlalu dibebani tanggung jawab yang berat.

4.3 GEJALA SOSIAL

Masalah depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan (atau aktivitas rutin lainnya). Lingkungan tentu akan bereaksi terhadap perilaku orang yang depresi tersebut yang pada umunya negatif (mudah marah, tersinggung, menyendiri, sensitif, mudah letih, mudah sakit). Problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan rekan kerja, atasan atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk konflik, namun masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di antara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal. Mereka merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.

Menurut dr. Hubertus gejala depresi dibagi menjadi 2 yaitu :

Gejal Major Depression :

1.      Gelisah dan sedih

2.      Pesimis

3.      Tak berguna, tidak percaya diri

4.      kehilangan minat pada aktivitas yang menyenangkan termasuk seks

5.      tak bersemangat dan lamban

6.      sulit konsentrasi

7.      sulit mengambil keputusan putus asa

8.      sulit tidur atau terlalu banyak tidur

9.      putus asa

10.  kehilangan selerea makan atau makan jadi berlebihan

11.  berpikir tentang atau ingin bunuh diri

12.  mudah tersinggung

13.  merasa sakit kepala atau penyakit lain tak bisa sembuh seketika

Gejala Maniac-Depressive Illnes :

1.      Gembira berlebihan dan tidak normal

2.      Mudah tersinggung yang tidak lazim

3.      Kebutuhan tidur menurun drastis

4.      Bicara muluk tentang dirinya

5.      Bicara berlebihan

6.      Hasrat seksual meningkat pesat

7.      Perilaku sosial menyimpang

8.      Sulit berpikir jernih

5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA DEPRESI

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang lebih berisiko terkena depresi, faktor tersebut antara lain :

5.1 Jenis Kelamin

Pada pengamatan yang hampir universal, terlepas dari kultur negara, terdapat prevalensi gangguan depresi berat yang dua kali lebih besar pada wanita dibandingkan laki-laki. Walaupun alasn adanya perbedaan tersebut tidak diketahui, penelitian telah jelas menunjukkan bahwa perbedaan di dalam masyarakat barat tidak semata-mata karena praktek diagnostik yang secara sosial mengalami bias(sinopsis psikiatri halm 779)

5.2 Usia

Rata-rata usia onset untuk gangguan depresif berat adalah kira-kira 40 tahun, 50 persen dari semua pasien mempunyai onset antara usia 20 dan 30 tahun. Gangguan depresif berat juga mungkin memiliki onset selama masa anak-anak atau pada lanjut usia, walaupun hal tersebut jarang terjadi. Beberapa data epidemiologis baru-baru ini menyatakan bahwa insidensi gangguan depresif berat mungkin meningkat pada orang-orang yang berusia kurang dari 20 tahun. Karena pada usia tersebut masalah hidup lebih berat Jika pengamatan tersebut benar, hal tersebut mungkin berhubungan dengan meningkatnya penggunaan alkohol dan zat lain pada kelompok usia tersebut.

5.3 Status Perkawinan

Pada umumnya, gangguan depresif berat terjadi paling sering pada orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat atau yang bercerai atau berpisah. Hal ini mungkin karena penderita tidak mempunyai tempat maupun orang untuk menceritakan atau berbagi masalah yang dialami dalam kehidupannya

5.4 Pertimbangan Sosioekonomi dan Kultural

Tidak ditemukan adanya korelasi antara status sosioekonomi dan gangguan depresif  berat. Depresi mungkin lebih sering di daerah pedesaan daripada di daerah perkotaan. Untuk depresi sesaat ekonomi sangat berpengaruhmisalnya kenaikan harga BBM dapat menyebabkan depresi, karena hal tersebut sangat memberatkan apalagi untuk golongan ekonomi ke bawah. Tetapi depresi ini akan hilang dengan sendirinya dalam jangk waktu tertentu. Dalam kasus ini jika harga BBM kembali turun maka depresi tersebut akan hilang.

6. DAMPAK DEPRESI

Depresi tidak hanya menyerang psikis seseorang, tetapi juga dapat menimbulkan efek-efek lain bagi tubuh yang secara langsung dapat mengganggu aktifitas dan kesehatan penderita. Efek paling berat paling dirasakan pada orang yang mengalami depresi berat, karena pada tingkatan depresi ini sebagian besar harus mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa. Lingkungan rumah sakit maupun efek obat untuk terapi tentu akan berpengaruh secara langsung terhadap fisik pasien depresi di rumah sakit. Ada berbagai macam dampak depresi dari yang paling ringan hingga yang sangat berat bahkan menimbulkan kematian. Dampak-dampak tersebut antara lain :

1.      Depresi biasanya akan disertai dengan penyakit fisik, seperti asma, jantung koroner, sakit kepala dan maag

2.      Menurut seorang ahli yang juga penulis buku, yaitu Philip Rice, depesi akan meningkatkan resiko seseorang terserang penyakit karena kondisi depresi cenderung meningkatkan sirkulasi adrenalin dan kortisol sehingga menurunkan tingkat kekebalan tubuhnya. Jika sistem kekebalan tubuh menjadi lemah maka penyakit akan mudah untuk menyerang penderita depresi

3.      Penyakit mudah hinggap karena orang yang terkena depresi sering kehilangan nafsu makan, kebiasaan makannya jadi berubah (terlalu banyak makan atau sulit makan), kurang berolah raga, mudah lelah dan sulit tidur

4.      Selain penurunan daya tahan tubuh, depresi dipandang berbahaya bagi kesehatan psikis dan fisik karena bisa menyebabkan penurunan fungsi kognitif, emosi dan produktifitas dalam pekerjaan.

5.      Dampak depresi tidak hanya akan mempengaruhi diri sendiri penderita tersebut tapi juga akan berdampak bagi “lingkungan” sekitarnya. Yang dimaksud dengan lingkungan di sini adalah orang lain di sekitar penderita. Seperti halnya jika kita terserang flu, maka seluruh tubuh kita merasa lemas dan tidak enak . bukan  hanya itu, orang lain yang ada disekitar kita juga berpotensi untuk tertular oleh penyakit flu kita.

Menurut miner (1992), seorang professor dari The State University di New York, di dalam konteks organisasi situasi demikian dikenal dengan konsep the sick organization. Sebab, seorang karyawan yang mengalami gangguan emosional seperti hanya depresi, akan membawa implikasi tidak hanya pada kinerja dan kepuasan kerjanya sendiri melainkan juga pada kinerja dan atmosphere organisasi[2]  (http://www.e-psikologi.com/masalah/index.htm) halm1

6.      Ada pula dimana depresi tidak menyebabkan penyakit, tetapi justru penyakit yang tak kunjung sembuh yang akhirnya menyebabka depresi sehingga akan memperparah penyakit tersebut. Contoh kasus adalah depresi yang dialami penderita kanker, asma, sakit punggung yang biasanya berlangsung bertahun-tahun

7. Perawatan Depresi

Depresi sebenarnya mudah untuk disembuhkan kecuali pada depresi berat. Pada tingkatan depresi ini diperlukan terapi pengobatan yang agak sulit. Karena depresi berat sudh mengarah pada ganggan kejiwaan. Kebanyakan orang kawatir dengan dampak pengobatan antidepresan yang apabiladignakan dalam secara terus meners dan dalam jangka waktu yang lama akan dapat mempengaruhi kerja otak. Rata-rata dua dari tiga penderita depresi bisa disembuhkan, pada tingkat tertentu, yaitu pada tingkatan depresi sesaat dan neurologis. Sedangkan pada depresi berat diperlukan pemberian antidepresan. Untuk itu pengobatan depresi ditempuh melalui dua jalan yaitu perawatan secara psikis dan perawatan secara medis.

Perawatan secara psikis adalah cara perawatan untuk memperbaiki psikis penderita, perawatan ini lebih menekankan pada terapi yang kontinu dalam meningkatkan percaya diri dan mengurangi faham-faham negatif penderita depresi terhadap dirinya dan orang lain. Perawatan medis adalah perawatan depresi yang menggunakan terapi obat dan lebih menonjolkan pada terapi medis yang umumnya dilaksanakan dirumah sakit jiwa. Perawatan ini lebih cenderung ditujukan pada penderita depresif  berat, walaupun pada depresif  neurologis juga membutuhkan terapi ini, tetapi persentasenya lebih kecil dibandingkan dengan depresi berat dalam pemberian terapi ini.

Cara-cara perawatan depresi adalah sebagai berikut :

7.1 Terapi Psikis

Terapi psikis umumnya tidak memerlukan seorang psikiater tapi lebih cenderung pada menerapkan disiplin diri dan mencari jalan keluar untuk menghadapi masalah yang menjadi sumber depresi tersebut.

7.1.1    Perhatian utama dalam menangani masalah depresi adalah adanya komitmen dan persistensi untuk menyelesaikannya. Fokuskan perhatian pasien pda da hal tersebut agar keiinginannya untuk sembuh meningkat. Sehingga pasien lebih kooperatif dan kita mudah untuk mengetahui permasalahan pasien

7.1.2    Banyak pasien depresi merasa terkucil dan putus asa, ntuk itu diperlkan sikap kita yang lebih berteman. Sehingga pasien tidak akan merasa kesepian dan dengan leluasa dapat mencurahkan segala permasalahan hidupnya.

7.1.3    Beritahu pasien bahwa depresi itu umum terjadi, sehingga pasien tidak merasa terkucilkan lagi

7.1.4    Bantulah pasien untuk menemukan stressor atau masalah utama yang dihadapi sehingga mengakibatkan depresi. Stressor dapat berupa individu, kelompok, maupun lingkungan. Dengan menemukan stressor dapat mengurangi perasaan dosa dan rendah diri pasien

7.1.5    Tekankan pada pasien bahwa depresi merupakan suatu penyakit, seperti juga hipertensi yang membutuhkan pengobatan medik

7.1.6    Perbaiki segala macam anggapan dan ambivalensi pasien. Berikan penjelasan bila terdapat ambivalensi sehingga pasien ragu untuk mencari pengobatan. Anggapan yang beredar di masyarakat biasanya orang yang pergi ke psikiateradalah orang gila.

7.1.7    Hindari bualan atau harpan yang kosong

7.1.8    Memperbaiki hubungan interpersonal. Apabila pasien memiliki hubungan dengan seseorang yang suka menganiaya atau hubungan dengan seseorang yang selalu mencela pasien, sulit bagi pasien untuk sembuh dari depresi

7.1.9    Terapi dari pasangan dan terapi keluarga bisa membantu mengatasi depresi, hampir setiap komunitas terdekat memiliki program untuk membantu pasien. Termasuk keluarga. Keluarga diharapkan bisa membantu mengenali keluhan fisik akibat depresi, mengawasi kondisi pasien dan memotivasi pasien untuk sembuh

7.1.10    Memperbaiki hubungan dengan orang terdekat dapat membantu memperoleh dukungan positif saat pasien berusaha menyembuhkan depresi

7.1.11    Penjadwalan aktifitas, hal ini dimaksudkan agar pasien lebih meningkatkan aktifitasnya terutama aktifitas yang menyenangkan. Untuk  pengobatan depresi, sering kali menekankan pada peningkatan jumlah aktifitas mingguan yang menyenngkan dan yang dapat menimbulkan perasaan puas. Karena dengan hal itu pasien akan merasa lebih baik

7.2 Terapi Obat

Depresi dapat diobati dengan antidepresanObat untuk depresi, namun anti depresan dapat berinteraksi dengan ARV. Anti depresan harus dipakai dalam pengawsan dokter yang mengetahui mengenai ARV yang kita pakai. Ritonavir FOOt NOTE dan indinavir paling sering beriteraksi dengan antidepresan.

Antidepresan yang paling sering dipakai dalam mengobati depresi adalah SSRIFOOTNOTE. Efek samping obat golongan ini dapat menyebabkn kehilangan nafsu seks, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, insomnia (sulit tidur), kelelahan, mual, diare, dan kegelisahan

Obat dari golongan trisiklik menyebabkan lebih banyak efek samping daripada SSRI. Obat dari golongan ini dapat menyebabkan sedasi FOOTNOTE, sembelit, dan denyut jantung tidak teratur.

Pengobatan depresi ringan dapat disesuaikan dengan gejala-gejala yang timbul. Misalnya susah tidur dan kehilangan nafsu makan dapat diberikan obat penambah nafsu makan atau obat tidur.

Terapi antidepresi yang pasti adalah dengan obat atau kejang listrik (ECT) membutuhkan beberapa minggu atau lebih lama. Informasi penting untuk menentukan tindakan pengobatan adalah : apakah pasien psikotik?, apakah pasien telah minum obat atau alkohol?, adakah gangguan medik yang ditemukan?. Jika kita telah mengetahui masing-masing informasi tentang hal diatas, maka tindakan pengobatan selanjutnya akan lebih aman, mengingat antidepresan sangat mudah bereaksi dengan obat lain.

Berikut ini adalah terapi obat dengan antidepresan :

7.2.1       Bila pasien mengidap gangguan organik, dapat diatasi dengan benzodiazepine seperti lorazem (ativan) 1-2 mg per oral atau 1M, alprazolam (xanax) 0,5-1 mg per oral, atau oksazepam (serax) 10-30 mg per oral, semua diberikan tiap 4 jam dan seperlunya

7.2.1       Bila gejala psikotik timbul, benzodiazepine dapat digunkan, tetapi antipsikotika perlu dipertimbangkan. Contuh haloperidol (haldol) 2-5 mg per oral atau 1M, flufenazin (prolixin, anatensol) 2-5 mg per oral atau 1M, atau tiotiksen (navane) 2-5 mg per oral atau 1M. semua diberikan tiap 4 jam seperlunya

8. Pencegahan Depresi

Depresi memang dapat diobati namun depresi juga dapat dicegah, ingat mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah cara mencegah depresi :

a.       Usahakan untuk selalu punya seseorang yang dekat untuk bercurah hati. Jangan pernah untuk menyimpan sendiri beban hidup kita. Karena hal ini dapat memperburuk depresi yang sdah dialami mapun dapat mengakibatkan depresi

b.      Berpartisipasi dalam suatu kegiatan yang dapat membuat diri lebih baik, hal ini dapat mengalihkan perhatian kita terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Ingat kita bkan lari dari masalah tetapi labih cenderung menyegarkn pikiran kita sehingga kita lebih siap untuk menghadapinya lagi nanti.

c.       Berpikir realistis, jangan terlalu menghayal dan berimajinasi. Hilangkan kata “seandainya saya…” dalam hidup kita

d.      Melakukan olahraga, aktif dalam kelompok agama dan sosial, kegiatan tersebut membuat kita lebih jarang melamun

e.       Mengubah suasana hati, Usahakan untuk selalu membuat suasan hati kita gembira karena hal tersebut dapat menghindarkan diri dari menyalahkan diri sendiri

f.       Jangan banyak berpengharapan

g.      Berpikir positif

h.      Lapang hati dan sabar dalam mengadapi segala cobaan hidup dapat menjauhkan diri kita dari depresi

LAPORAN PENDAHULUAN

 

 

I.       MASALAH UTAMA

Gangguan alam perasaan: depresi dengan resiko bunuh diri.

 

II.    PROSES TERJADINYA MASALAH

Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.

Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagai­nya.

Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti bunuh diri, penyakit infeksi, pembedah­an, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras.

Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

III.  A. POHON MASALAH

  1. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI

1.      Gangguan alam perasaan: depresi

a.       Data subyektif:

Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan somatik. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri.

b.      Data obyektif:

Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan lang­kah yang diseret.Kadang‑kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering me­nangis.Proses berpikir terlambat, seolah‑olah pikirannya kosong, konsentrasi tergang­gu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi.Kadang‑kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu.

2.      Koping maladaptif

a.       DS      : menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.

b.      DO     : nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.

IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Resiko mencederai diri berhubungan dengan depresi.

2.      Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping maladaptif.

V.    RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

a.       Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.

b.      Tujuan khusus

1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya

Tindakan:

1.1.    Perkenalkan diri dengan klien

1.2.    Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empati

1.3.    Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya: memberikan sentuhan, anggukan.

1.4.    Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respons sesuai dengan keinginannya

1.5.    Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti

1.6.    Terima pasien apa adanya tanpa membandingkan dengan orang lain.

2.      Klien dapat menggunakan koping adaptif

2.1.      Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat memahami apa yang dirasakan pasien.

2.2.      Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan sedih/menyakitkan

2.3.      Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan

2.4.      Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.

2.5.      Beri dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima

2.6.      Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih

2.7.       Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.

3.      Klien terlindung dari perilaku mencederai diri

Tindakan:

3.1. Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri sendiri.

3.2.      Jauhkan dan simpan alat‑alat yang dapat digunakan olch pasien untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan terkunci.

3.3.      Jauhkan bahan alat yang membahayakan pasien.

3.4.      Awasi dan tempatkan pasien di ruang yang mudah dipantau oleh peramat/petugas.

4.   Klien dapat meningkatkan harga diri

Tindakan:

4.1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.

4.2.   Kaji dan kerahkan sumber‑sumber internal individu.

4.3. Bantu mengidentifikasi sumber‑sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal‑hal untuk diselesaikan).

5.   Klien dapat menggunakan dukungan sosial

Tindakan:

5.1.   Kaji dan manfaatkan sumber‑sumber ekstemal individu (orang‑orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).

5.2.   Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).

5.3.   Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling  pemuka agama).

6.      Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat

Tindakan:

6.1.  Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).

6.2.   Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).

6.3.   Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.

6.4.   Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.

 

Panduan Anamnesis Keluhan Utama & Riwayat Penyakit Sekarang Pada Pasien Dengan Analisa PQRST


KELUHAN UTAMA

Merupakan keluhan yang dirasakan pasien, sehingga menjadi alasan pasien dibawa ke Rumah Sakit

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Merupakan kronologis dari penyakit yang diderita saat ini mulai awal hingga di bawa ke RS secara lengkap meliputi:

  •       P : Provocative or Palliative :

Apa penyebab timbulnya keluhan atau gejala…?

Hal apakah yang memperberat dan mengurangi keluhan…?

Apa yang dilakukan pada saat gejala mulai dirasakan…?

Keluhan psikologis yang dirasakan…?

  •       Q : Quality or Quantity :

Bagaimana gambaran sifat keluhan yang dirasakan, dilihat, didengar…?

Seberapa sering merasakan keluhan tersebut…?

  •       R : Region or Radiation :

Dimana lokasi atau area yang dikeluhkan…?

Bagaimana penjalaran keluhannya…?

  •       S : Skala or Severity :

Bagaimana skala yang dirasakan jika keluhan kambuh skala 1 – 10…?

  •       T : Timing and Treatment:

Kapan keluhan mulai dirasakan…?

Apakah keluhan terjadi mendadak atau bertahap…?

Seberapa lama keluhan berlangsung ketika kambuh…?

Hal apa saja yg telah dicoba pasien untuk mengurangi keluhan ketika kambuh…?

 

Note:  Jangan Lupa Pengukuran Berat Badan Untuk Pasien Anak…!

Penatalaksanaan Kemoterapi Yang Aman


A. Latar belakang

Indonesia pada saat ini tengah mengalami perubahan pola penyakit, dari penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, stroke, hipertensi, myocard infark, kanker dan lain-lain. Data yang akurat tentang kanker di Indonesia sampai saat ini belum ada, yang jelas menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 memperlihatkan 6% kematian di Indonesia diakibatkan oleh kanker.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk terapi kanker. Dalam dunia kesehatan, kanker umumnya diobati dengan tiga jenis (modalitas) pengobatan yaitu operasi, radioterapi dan kemoterapi. Ada satu jenis lagi yang juga sedang dikembangkan yaitu imunoterapi/ bioterapi.

Kemoterapi merupakan salah satu cara pengobatan kanker dengan memberikan obat atau zat yang berkasiat membunuh sel kanker. Para ahli mengakui bahwa kemoterapi mempunyai kemampuan untuk memperpanjang hidup pasien (Power & Polovich, 2004), meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan harapan untuk pengobatan jutaan orang yang terkena kanker (Wade III, Goldstein, Nystrom, Presan, Rausch, 1997, ASCO, 2004). Kemoterapi bermanfaat bagi penyakit Hodgkin, limfoma non-Hodgkin, kanker testis, leukemia, limfoma pada anak, kanker payudara, kanker ovarium, kanker paru jenis small cell serta multiple mieloma. Sementara itu kemoterapi hanya berfungsi paliatif pada kanker nasofaring, kanker prostat, kanker pada leher dan kepala dan kanker paru non-small cell. Kemoterapi kurang diandalkan manfaatnya pada kasus kanker jaringan lunak, melanoma dan kanker kolon.
Kemoterapi dapat digunakan dalam bentuk adjuvant therapy yaitu kemoterapi yang diberikan setelah dilakuan terapi modalitas lainnya (operasi, radioterapi). Neo adjuvant therapy yaitu kemoterapi yang diberikan sebelum dilakukan operasi untuk mengurangi ukuran tumor sehingga mudah dioperasi (Otto,1997).

PERINGATAN
Bekerja dengan atau dekat dengan obat-obat berbahaya di tatanan kesehatan dapat menyebabkan ruam kulit, kemandulan, keguguran, kecacadan bayi, dan kemungkinan terjadi leukemia dan kanker lainnya (NIOSH, 2004)

Obat-obat yang digunakan sebagai kemoterapi dikenal dengan golongan sitostatika. Penelitian farmasi terus dilakukan sehingga macam obat juga semakin banyak lagi, Sebagai contoh obat adjuvant kemoterapi untuk kanker kolon terus berkembang dalam lima tahun terakhir. Obat tradisional yang sering digunakan adalah fluorouracil yang selalu dikombinasikan dengan oabt-obat kemoterapi baru seperti capecitabine, irinotecan, oxaliplatin dan obat-obat target organ seperti bevacizumab dan cetuximab. Obat kemoterapi lama dan hasil penemuan baru mempunyai mekanisme kerja, efek samping dan implikasi keperawatan yang berbeda-beda (Vega-Stromberg, 2005), sehingga praktisi kesehatan yang berkecimpung dengan obat ini harus selalu mengikuti perkembangannya. Dari keterangan diatas juga diketahui bahwa dalam mengobati suatu kanker tertentu sering menggunakan sitostatika dalam bentuk paduan obat yang terdiri dari lebih dari satu obat sitostatika. Paduan obat kemoterapi dan jenis kanker yang diobatinya dapat dilihat pada lampiran 3.

Pemberian kemoterapi yang tidak sesuai dengan standard precaution yang aman juga bisa berdampak buruk baik untuk petugas kesehatan yang berhubungan langsung dengan obat, klien lain juga pada lingkungannya, sehingga perlu dipahaminya prosedur pemberian kemoterapi yang aman bagi semua orang yang ada di rumah sakit. Petugas kesehatan yang berisiko terpapar oleh obat ini adalah perawat, farmasis, dokter dan pegawai lainnya yang terlibat dalam penyiapan, pemberian dan pembuangan zat ini (McDiarmid, Presson & Fujikawa, 1995; Power & Polovich, 2004). Oleh sebab itu dalam beberapa waktu terakhir perhatian tentang potensi pemaparan dan akibat lebih lanjut pada petugas kesehatan yang menangani obat sitotoksik atau antineoplasma semakin besar (Ziegler, Mason & Baxter, 2002). Terutama para professional kesehatan termasuk para pengelola rumah sakit.

Berdasarkan dengan latar belakang tersebut diatas, maka perawat sangat perlu memahami secara lebih mendalam tentang obat kemoterapi, bahaya yang dapat timbul pada petugas kesehatan dan pasien serta cara pemberian yang aman pada pasien.

B. Obat Kemoterapi

Obat kemoterapi atau obat antineoplasma atau obat sitostatika adalah suatu obat yang mencegah perkembangan, pertumbuhan dan proliferasi sel-sel malignan (ganas). Obat antineoplastik/ obat antikanker atau obat kemoterapi kanker juga dikenal sebagai obat sitotoksik (HSE, 2003). Obat sitotoksik yaitu kemampuan suatu zat kimia untuk merusak sel atau mencegah sel untuk memperbanyak diri (multiplikasi). Obat ini termasuk obat-obat yang berbahaya (OB). Obat berbahaya (OB) adalah suatu zat atau obat yang bersifat genotoksik, carsionogenik, teratogenik dan atau menyebabkan kesusakan fertiliasi (McDiarmid, Presson & Fujikawa, 1995). Namun kriteria obat berbahaya ini diperluas oleh National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Obat digolongkan sebagai obat berbahaya jika obat tersebut memenuhi satu atau lebih karakteritik berikut (NIOSH, 2004c; Polovich, 2004, 2005; Brown, t tahun):

1. Karsinogenisitas
2. Teratogenisitas atau toksisitas perkembangan
3. Toksisitas reproduktif
4. Toksisitas organ dalam dosis rendah
5. Genotoksisitas
6. Mempunyai struktur atau toksisitas yang mirip dengan obat-obatan yang telah diklasifikasikan dalam obat berbahaya dengan menggunakan criteria diatas

Berikut ini nama-nama obat kemoterapi yang sering digunakan termasuk nama kanker yang diobatinya (Rogers, 1987; Chabner et al. 1996; Jochimsen, 1992; McFarland et al. 2001 dalam NIOSH 2004a, 2004b):

Agent Ankylating (mengganggu mitosis dan pebelahan sel normal)
a. Chlombucil (Leukeran ®)¾ kanker payudara, paru, ovarium dan testis; Penyakit Hidgkin’s
b. Cyclophosphamide (Cytoxan ®)¾multiple myeloma; kanker payudara, paru dan ovarium.
c. Carmustine (BiCNU ®)¾melanoma maligna, tumor otak.

Antimetabolit (mengganggu sintesis asam folat, purin dan pyrimidine)
a. Methotrexate (Mexate ®)¾leukemia, kanker paru, dan kanker payudara
b. Fluorouracil (Adrucil ®)¾kanker kandung kemih, hati, pancreas, paru, dan payudara
c. Mercaptopurine (Purinethol ®)¾leukemia akut.

Antibiotik (menyebabkan pemecahan rantai tunggal atau rantai ganda DNA)
a. Actinomycin D (Cosmegen ®)¾Sarkoma Kaposi, rhabdomyocarcoma
b. Doxorubicin (Adriamycin) ¾ leukemia akut, kanker payudara
c. Bleomycin (Bleo ®)¾Limfoma Hodgkins/ non Hodgkins, Kanker testis

Produk Alami (obat antimitosis) (mencegah mitosis dan menyebabkan penghentian metaphase).
a. Vinblastine (Velban ®)¾Limfoma non Hodgkin, kanker payudara dan testis.
b. Vincristine (Oncovin ®)¾kanker paru sel kecil, Limfoma non Hodgkins
c. Paclitaxel (Taxol ®)¾Kanker ovarium dan kanker payudara

Agent miscellaneous
a. Hydroxyurea (Hydrea ®)¾bekerja sebagai anti metabolit dalam fase S; melanoma maligna, kanker ovarium metastasis
b. Estrogen¾mengganggu reseptor hormone dan protein dalam semua fase siklus sel; kanker prostate, kanker payudara lanjut postmenopause

Obat-obat antikanker diatas juga terkadang digunakan untuk terapi pada kasus kasus non kanker, seperti methotrexate untuk mengobati rheumatoid arthritis (Baker et al. 1987 dalam NIOSH 2004a, 2004b), cyclopospahmide untuk multiple sclerosis (Moody et al 1987 dalam NIOSH 2004a, 2004b), dan 5-fluorouracil untuk psoriasis (Abel 2000 dalam NIOSH 2004a, 2004b). Obat-obatan ini walaupun tidak digunakan untuk pasien kanker, dalam pemberiannya diperlakukan seperti melakukan pemberian obat antikanker lainnya. Untuk itu para perawat harus waspada dan teliti dalam mengidentifikasi obat-obatan yang akan diberikan pada klien.

The International Agency for Research on Cancer (IARC) telah mengevaluasi 900 obat yang berpotensi menyebabkan kanker pada manusia (Power & Polovich, 2004). Berikut ini daftar obat-obat kemoterapi yang sering digunakan sebagai anti kanker pada pasien (Vanchieri, 2005):

1. Kelompok I: Karsinogenik pada manusia
a. Azathioprine
b. Busulfan
c. Cholorambucil
d. Cyclophosphamide
e. Melphalan
f. MOPP
g. Semustine
h. Tamoxifen
i. Thiotepa
j. Threosulfan

2. Kelompok II: mungkin karsiongen (probable carcinogens)
a. Carmustine
b. CCNU
c. Cisplatin
d. Doxorubicin
e. Nitrogen Mustard
f. Procarbazine

3. Kelompok III: diduga karsinogen (possible carcinogens)
a. Bleomycin
b. Dacarbacin
c. Mitamycin
d. Streptozocin

Untuk lebih lengkapnya, kunjungi website IARC: http://www-cei.iarc.fr/%20monoeval/grlist.html

C. Obat Kemoterapi dan Bahayanya

Mekanisme kerja dari obat-obat berbahaya ini termasuk obat-obat kemoterapi adalah dengan menempel langsung pada materi genetic di dalam nucleus sel atau dapat berpengaruh dalam sintesis protein seluler. Obat kemoterapi berupaya mempengaruhi sel melalui beberapa mekanisme. Pada tingkat seluler mereka melakukan aksi lethal dengan proses mencegah pertumbuhan dan perkembangan sel-sel target. Mekanisme ini meliputi merusak produksi enzim-enzim esensial, menghalangi sysntesis RNA, DNA dan protein, serta memcegah mitosis sel.

Obat-obat kemoterapi ini tidak dapat membedakan antara sel-sel yang normal dengan sel-sel kanker (Worthington, 2000, Sutarni, 2003a). Pertumbuhan dan reproduksi sel-sel normal juga sering dipengaruhi selama pengobatan sel-sel kanker. Bukti lain dapat dilihat pada beberapa penelitian pada hewan, Sejumlah penelitian mencatat terjadinya pengaruh carsionegik, mutagenik dan teratogenik dari Obat-obat berbahaya pada hewan yang terpapar (McDiarmid, Presson & Fujikawa, 1995).

Data pada manusia tentang pengaruh penggunaan obat-obat berbahaya termasuk obat kemoterapi juga banyak dicatat oleh para ahli. Timbulnya keganasan skunder tercatat sebagai efek samping dari pemberian obat kemoterapi pada penderita kanker. Leukemia adalah kasus yang paling banyak dilaporkan, diamping keganasan lainnya seperti kanker kandung kemih dan limfoma (McDiarmid, Presson & Fujikawa, 1995).

Aberasi kromomosn juga dapat terjadi akibat pemberian kemoterapi pada pasien yang menderita kanker primer. Salah satu penelitian tentang pemberian chlorambusil menunjukan adanya kerusakan kromosom pada pasien yang menerima obat tersebut yang sifatnya akumulatif dan berhubungan dengan dosis dan lamanya pemberian (McDiarmid, Presson & Fujikawa, 1995).

Sejumlah laporan kasus berhubungan dengan pengobatan dengan kemoterapi menyebabkan kelainan pada alat reproduksi. Disfungsi testis dan ovarium sampai terjadi sterilias permanent terjadi pada pasien laki-laki dan perempuan yang telah menerima satu atau kombinasi obat kemoterapi (McDiarmid, Presson & Fujikawa, 1995). Beberapa obat antineoplasma juga diketahui atau diduga dialirkan kepada anak melalui air susu ibu.

D. Obat kemoterapi dan Paparan pada Petugas Kesehatan

Persiapan, pemberian dan pembuangan obat-obat berbahaya dapat menyebabkan paparan pada farmasis, perawat dan dokter dan tenaga kesehatan yang lain yang terlibat dalam proses diatas tersebut. Tingkat absorsi obat tersebut ditempat kerja dan efek dini biologi terhadap petugas kesehatan sulit dikaji dan sangat beragam untuk tiap individu (McDiarmid, Presson & Fujikawa, 1995). Namun demikian, beberapa kasus dapat menjadi bukti potensi keracunan pada obat ini jika tidak ditangani dengan cara yang tepat. McDiarmid, Presson & Fujikawa (1995) mencatat bahwa paparan sampingan ini mempunyai efek akumulasi yang cepat.

Sampai sekarang umumnya petugas kesehatan masih percaya bahwa tempat kerja mereka aman saat menyiapkan dan memberikan obat-obatan kemoterapi apalagi jika telah mengikuti petunjuk yang dipublikasikan oleh Occupational Safety and helath Administration (OSHA) pada tahun 1986. Tetapi kenyataan mengatakan lain. Seorang anggota NIOSH, bagian dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), Thomas H. Connor menemukan kontaminasi obat-obat kemoterapi di enam pusat pengobatan kanker di Kanada dan Amerika Serikat. Hasilnya, tiga obat anti kanker terdeteksi di 75% sampel ruang famasi tempat penyiapan obat kemoterapi, dan didalam 65% tempat pemberian obat kemoterapi (Vanchieri, 2005, Polovich, 2004). Pada saat yang sama Connor juga menemukan bahwa fasmasis dan perawat yang menangani cyclophosphamide terpapar obat yang cukup banyak sehingga nampak pada pemeriksaan urinnya (Vanchieri, 2005). Hasil penemuan ini sebenarnya tidak jauh berbeda seperti yang ditemukan Flack (1979, dalam Sutarni, 2003b; Power & Polovich, 2004) yang menjelaskan bahwa urin perawat yang mengerjakan dan memberikan sitostatika sama dengan urine klien yang mendapatkan obat anti kanker. Penelitian lanjutan tentang hal ini menunjukan bahwa peningkatkan keamanan penanganan obat antineoplasma menurunkan hal tersebut (Power & Polovich, 2004).

Horrison (2001, dalam NIOSH, 2004) melaporkan bahwa enam obat yang berbeda (cyclophospamide, methotrexate, ifosfamide, epirubicin dan cisplatin/carboplastin terdeteksi dalam urine petugas kesehatan pada 13 dari 20 penelitian. Berkaitan dengan penelitian ini, dua penelitian ini juga melaporkan ditemukannya obat antineoplasma di dalam urin petugas farmasi dan para perawat (Perhran et al. 2003; Wick et al. 2003, dalam NIOSH, 2004c).

Penelitian lain juga menunjukan adanya penyimpangan atau kelainan kromoson pada perawat yang bekerja pada waktu lama mempersiapkan obat sitostatika (Wasfik, dalam Sutarni, 2003b). Signifikasi secara statistik tentang terjadinya efek genotoksik dan kerusakan genetic banyak dilaporkan (NIOSH, 2004). Beberapa penelitian menunjukan peningkatan pembentukan mikronuklei dan peningkatan kromosok kembar yang mengalami perubahan termasuk aberasi kromosom pada farmasis dan perawat yang terpapar dengan antineoplasma (NIOSH, 2004).

Risiko lain yang harus ditanggung petugas kesehatan saat menangani obat-obat kemoterapi jika tidak dilakukan tidak menggunakan standard precaution yang tepat adalah ruam kulit (skin rash), infertilitas, keguguran, kecacadan lahir, kemungkinan leukemia dan kanker lain (Vancheiri, 2005). Baru sedikit informasi tentang risiko kanker berhubungan dengan paparan antineoplasma pada petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit (Burgas et al, 1999; Mc Diarmid et al., 1992; Oestreicher et al., 1990; ketiganya dalam NIOSH, 2005). Tetapi banyak kasus dilaporkan berhubungan dengan kejadian kanker berhubungan dengan paparan antineoplasma pada petugas keseahatan di rumah sakit. Satu kasus kanker kandung kemih pada seorang farmasis dilaporkan berkaitan dengan seringnya terpapar oleh antineoplasma, sementara ia tidak pernah adanya bukti ia terpapar oleh karsinogen lingkungan lain yang diketahui (Levin, et al., 1993, dalam NIOSH, 2004c).

Para ahli menyatakan bahwa tiga keganasan yang tersering akibat sering terpapar dengan obat-obat kemoterapi adalah kanker kandung kencing, limfoma dan leukemia (Polovich, 2004, 2005; Power & Polovich, 2004; Vanchieri, 2005).

Petugas kesehatan yang terpapar seharusnya dikaji oleh suatu penelitian tentang biological marker dari paparan. Biological marker yang ditemukan tidak bersifat tunggal, yang bisa digunakan sebagai indicator yang baik sebagai efek samping penggunaan antineoplastik pada petugas kesehatan (Baker & Connor, 196, dalam NIOSH, 2004). Bukti biologis yang dapat digunakan untuk mengevaluasi paparan petugas kesehatan terhadap obat antineoplasma meliputi mutagenisitas urine, kerusakan kromosom, perubahan kromatin kembar, induksi mikronuklei, kerusakan DNA, mutasi hypoxanthine-guanine phosphoribosyltransferase dan ekskresi thioether (Power & Polovich, 2004).

Faktor yang mempengaruhi paparan obat atineoplastik dan atau obat-obat berbahaya lainnya ke petugas kesehatan adalah sebagai berikut (NIOSH, 2004).
1. Lingkungan disekitar obat sedang ditangani (persiapan, pemberian dan pembuangan).
2. Jumlah obat yang disiapkan
3. Frekuensi dan durasi obat diberikan
4. Potensi untuk diabsorbsi
5. Penggunaan kabinet biologi berventilasi
6. Alat pelindung diri
7. Praktik kerja (cara para praktisi bekerja).

Pengalaman menunjukan efek samping yang dialami oleh petugas keseahatan dari obat-obatan berbahaya semakin meningkat seiring dengan jumlah dan frekuensi paparan dan praktik/ kebiasaan kerja yang tidak baik.

E. Rute pemaparan Obat kemoterapi Pada Perawat

Perawat dan petugas kesehatan lain yang menangi obat-obat kemoterapi berpeonesi untuk terpapar obat ini melalui rute berikut ini (Polovich, 2004, 2005, Vanchieri, 2005):
1. Inhalasi — dari udara pernafasan yang terkontaminasi seperti obat yang berubah menjadi aerosol atau droplet.
2. Kontak kulit — kontak langsung dengan obat atau menyentuh permukaan lingkungan atau benda yang terkontaminasi obat kemoterapi
3. Tertelan — berasal dari makanan atau minuman, atau kontak tangan ke mulut.
4. Kecelakaan suntik– berasal dari tertusuknya oleh jarum suntik atau benda tanjam lain yang terkontaminasi oleh obat kemoetarapi.

Absorbsi obat kemoterapi melalui kulit atau mukosa dan inhalasi biasanya terjadi selama aktivitas berikut (Aschenbrenner, Cleveland & venabel, 2002):
1. Membuka vial atau ampul kemoterapi
2. Membuang udara dari dalam tabung alat suntik (syringe) yang telah terisi obat kemoterapi
3. Pembuangan peralatan infuse, botol cairan dan selang infuse yang habis digunaan untuk memberi obat kemoterapi.
4. Membuang ekskresi tubuh pasien yang telah menerima obat kemoterapi.

Tertelannya obat kemoterapi oleh petugas kesehatan terjadi melalui kontak tangan ke mulut melalui makanan, minuman, rokok, kosmetik dan alat-alat yang terkontaminasi obat kemoterapi.

Ziegler, Mason dan Baxter (2002) menyatakan bahwa perhatian terhadap paparan obat kemoterapi [seharusnya] tidak hanya pada akibat ceceran obat tersebut, tetapi juga akibat kontak dengan cairan tubuh pasien seperti muntah, keringat dan urin pasien. Karena cairan tubuh ini juga mengandung obat kemoterapi. Untuk menghindari resiko paparan terhadap obat sitotoksi ini langkah yang paling baik bagi para perawat adalah memakai alat pelindung diri mulai dari persiapan, pemberian kemoterapi, menolong klien dan penangan ekskresi sampai 2 x 24 jam setelah pemberian kemoterapi (Sutarni, 2003). Penanganan yang hati-hati juga dilakukan pada baju, balutan, linen dan benda lain yang terkontaminasi dengan obat atau cairan tubuh klien lainnya (NIOSH, 2004c).

Kontaminasi petugas kesehatan dengan obat sitostatika, dapat terjadi pada saat :
1. Pengambilan obat kembali melalui jarum suntik
2. Membuka Ampul
3. Pengeluaran udara dari spuit.
4. Mengganti botol infus atau selang yang sudah terisi oleh obat sitostatika.
5. Kontak melalui makanan dan minuman.
6. Makan, minum, merokok pada daerah persiapan.
7. Pada waktu membuang alat yang terkontaminasi.

Kontaminasi yang terjadi pada saat mempersiapkan/ pencampuran obat oleh tumpahan atau terpercik pada saat :
Menarik jarum dari vial.
Memindahkan obat dengan menggunakan jarum
Membuka ampul.
Mengeluarkan udara dari spuit
Mengganti intravenous line, selang infus, dan cairan infus.

Kontaminasi saat pemberiaan obat
Mengeluarkan udara dari spuit/ I V tube.
Saat melakukan injeksi.
Lepasnya IV line dari tube.
Tertusuk jarum.

Kontaminasi saat menangani alat-alat yang dipakai:
Semua peralatan yang telah dipakai dapat terkontaminasi
Beri lebel semua sampah sitostatika.
Ekskresi klien yang mengandung kemoterapi sampai 2X24 jam
Alat – alat tenun yang dipakai klien

F. Petugas Kesehatan yang Berisiko Terpapar

Petugas kesehatan dirumah sakit yang berpotensi untuk terpapar obat antineoplasma adalah sebagai berikut (NIOSH, 2004a,b):
1. Staf rumah sakit yang bekerja ditempat cairan tersebut berada mulai dari persiapan, pemberian dan pembuangan alat-lat yang digunakan (termasuk persiapan obat dengan menghancurkan obat tablet).
2. Petugas farmasi yang menyiapkan cairan [obat kemoterapi]
3. Petugas rumah sakit dibagian onkologi, yang melakukan infuse dan memberikan cairan tersebut.
4. Petugas kesehatan yang membuang feses, urin dan lain-lain dari pasien yang diobati dengan obat tersebut.
5. Petugas kesehatan yang menangani linen yang digunakan oleh pasien yang diberikan obat kemoterapi

G. Saat-saat Petugas Kesehatan Terpapar Antineoplasma di Rumah Sakit

Petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit akan terpapar obat antineoplasma melalui inhalasi, menelan secara tidak sadar atau melalui kontak kulit selama prosedur berikut (NIOSH, 2004a,b).
1. Menghitung tablet dari botol obat
2. Memecah atau menghancurkan tablet menjadi sedian cair.
3. Menyiapkan cairan
4. Menangani cairan
5. Memberikan obat
6. Membuang cairan
7. Membuang perangkat infuse yang telah digunakan atau peralatan yang digunakan untuk pemberian obat tersebut.
8. Membersihan tumpahan
9. membuang feses, urin, linen tempat tidur pasien yang diobati dengan obat tersebut
10. Mencuci linen yang digunakan oleh pasien yang diobati dengan oabt tersebut.

Petugas kesehatan juga dapat terpapar saat mengepel atau terpapar oleh permukaan lingkungan yang terkontaminasi oleh obat selama persiapan, pemberian dan pembuangan obat tersebut.

H. Gejala Terjadi Paparan Pada Petugas Kesehatan

Gejala-gejala dan pengaruh pada kesehatan berikut telah banyak dilaporkan
pada petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit yang telah terpapar oleh obat antineoplasma (NIOSH, 2004a,b):
1. Nyeri perut
2. Batuk-batuk
3. Pusing
4. Mual-mual
5. Muntah
6. Diare
7. Ruam kulit
8. Rambut rontok
9. Efek samping pada system reproduktif seperti gangguan siklus mentruasi, keguguran dan lahir cacad.

Jika para perawat mengalami masalah kehatan tersebut diatas setelah bekerja dengan antineoplasma, laporkan kejadian tersebut pada atasan perawat seperti kepala ruangan atau manajer rawat inap dan tim pengendali kecelakaan kerja Rumah sakit.
Sumber: Haughney, 2004

I. Persiapan dan Pencegahan Paparan Saat Pemberian Kemoterapi yang Aman Bagi Perawat

Agar tercegah terjadinya paparan pada perawat dilakukan persiapan sebagai berikut (Sutarni, 2003b):

1. Persiapan Perawat
Petugas atau perawat yang diizinkan untuk memberikan obat sitostatika adalah mereka yang sudah mendapat pendidikan tentang :
a. Cara menangani obat sitostatika.
b. Mengetahui kemungkinan resiko yang terjadi akibat oabt sitostatika.
c. Penatalaksanaan alat-alat yang terkontaminasi.
d. Pencegahan paparan terhadap perawat.

Petugas yang tidak diizinkan untuk memberikan obat sitostatika.
a. Wanita hamil dan menyusui.
b. Perawat yang tidak memakai pelindung
c. Mahasiswa perawat yang sedang praktek.

2. Tindakan pencegahan untuk pemberian obat kemoterapi yang aman

Pertanyaan selanjutnya yang sering muncul adalah bagaimana kita dapat mencegah terjadinya paparan terhadap antineoplasma. Lindungi diri kita (petugas kesehatan) dari paparan dengan metode dan cara kerja berikut ini (NIOSH, 2004a,b):
a. Siapkan obat ini dalam suatu tempat khusus yang ditangani oleh petugas yang mempunyai wewenang.
b. Siapkan obat ini dalam suatu biological Safety cabinet (BSC) terutama BCS kelas II tipe B atau kelas III (Suatu BSC yang mengalirkan udara dari dalam BSC keluar menjauhi ruangan).
c. Gunakan alat suntik (syring) dan set infuse dengan system Luer-Lok™ untuk persiapan dan pemberian obat ini. Buang syring dan jarumnya pada wadah yang didesain untuk melindungi petugas dari cidera [tertusuk].
d. Pertimbangkan untuk menggunakan alat untuk membawa obat dengan system tertutup dan system tanpa jarum.
e. Hindari kontak kulit. Gunakan baju pelindung disposibel yang terbuat dari bahan yang antitembuh cairan. Baju ini tertutup dibagian depannya, tangan panjang.
f. Gunakan sarung tangan berkualitas tinggi yang bebas bedak, yang menutupi lengan baju
g. Gunakan dua pasang sarung tangan (didouble).
h. Ganti sarung tangan secara periodic
i. Pakai plastic penutup wajah atau kacamata google untuk menhindari kontak dengan matam hidung, dan mulut dari obat tersebut, dimana obat ini dapat memercik, menyemprot atau menjadi aerosol.
j. Buka baju pelindung secara hati-hati untuk menghindari perluasan kontaminasi.
k. Lakukan pelatihan untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya keamanan dalam menyiapkan dan memberikan obat-obatan ini.
Gambar penyiapan Obat kemoterapi dalam BSC
Gambar: Skema BSC yang standar

Lindungi diri kita (perawat dan petugas kesehatan lainnya) dengan mengikuti tip berikut ini (NIOSH, 2004a,b):
a. Jangan makan atau minum [atau merokok] ditempat dimana obat antineoplastik disiapkan atau diberikan
b. Biasakan atau mampu untuk mengenali sumber paparan terhadap antineoplasma.
c. Cuci tangan sebelum dan sesudahh menggunakan melepaskan alat pelindung diri seperti baju pelindung disposibel dan sarung tangan disposibel.
d. Tangani sampah yang berhubungan dengan oabt antineoplasma secara terpisah dengan sampah rumah sakit lain. Tangani sampah tersebut sebagai sampah-sampah berbahaya.
e. Bersihkan tumpahan obat sesegera mungkin dengan menggunakan metode kewasapadaan yang tepat.
f. Pelajari kebjakatan tertulis rumah sakit dalam menangani obat antineoplasma.
g. Pelajari dan akses jurnal serta publikasi yang berhubungan dengan penanganan obat kemoterapi yang aman.

Secara lebih rinci, pencegahan pemaparan abat kemoterapi pada petugas mulai perilaku petugas, pemaparan melalui alat, saat persiapan pasien, saat menyiapkan obat, saat memberikan obat dan saat membuang sampah adalah sebagai berikut (Sutarni, 2003b):

a. Mencegah resiko yang berasal dari petugas
1) Tidak boleh makan dan minum ditempat pencampuran obat.
2) Tidak boleh mengunyah makanan dan merokok.
3) Tidak boleh memakai kosmetik ditempat pencampuran.
4) Tidak boleh menyimpan makanan dan minuman bersama sama dengan obat kemoterapi dalam satu kulkas.
5) Harus memakai tehnik mencuci tangan yang baik.
6) Harus menggunakan alat pelindung diri.
b. Pencegahan paparan melalui alat.
1) Harus memakai proteksi lengkap saat menangai alat alat yang habis dipakai.
2) Alat – alat direndam dengan deterjen kemudian bilas dengan air.

c. Pencegahan saat persiapan
1) Pakailah pakaian pelindung dengan lengan panjang dan bermanset elastis dengan bahan yang bersifat menahan penetrasi partikel obat
2) Gunakan topi untuk melindungi kepala.
3) Gunakan kaca mata untuk melindungi dari percikan.
4) Gunakan masker untuk mengurangi resiko terhirupnya melalui mulut dan hidung.
5) Gunakan sarung tangan untuk menghindari kontak dengan obat pada tangan.

d. Pencegahan saat persiapan obat sitostatika
1) Cuci tangan
2) Cegah kebocoran pada sarung tangan.
3) Sediakan alat-alat yang diperlukan.
4) Tutup troli dengan pengalas dan kertas/ bahan yang menyerap.
5) Jangan tumpah dan meninggalkan aerosol.
6) Wajah jangan terlalu dekat saat membuka ampul.
7) Sebelum membuka ampul pastikan tidak ada cairan di ujung ampul.
8) Gunakan kasa pada waktu membuka ampul .
9) Cegah kevakuman yang berlebihan pada amapul
10)Pastikan bahwa obat yang diambil sudah cukup agar tidak mengulang dua kali.
11) Gunakan kasa steril untuk mengeluarkan kelebihan udara dari spuit
12) Buat label dengan lengkap ( nama pasien, MR, obat, dosisi,tgl pencampuran ) tempelkan di spuit/ plabot/ botol
13) Letakkan obat pada tempat yang aman ( bak spuit, box tertutup )

e. Pencegahan saat memberikan obat sitostatika
1) Pakailah proteksi secara lengkap.
2) Gunakan spuit / set injeksi yang telah disediakan.
3) Gunakan kateter kecil, jangan menggunakan wing needle karena kaku dan merusak vena
4) Teliti dan hati-hati saat menyuntikkan obat sitostatika dan ketika penggantian jarum
5) Alasi dibawah penyuntikan dengan pengalas untuk menghindarkan tumpahan atau lelehan
6) Hindari obat jatuh ke alat – alat tenun diatas tempat tidur.

f. Pencegahan saat membuang sampah sitostatika

1) Material/ bahan–bahan yang terkontaminasi harus dibungkus dengan aman, material yang tajam dimasukkan ketempat yang tidak mudah bocor
2) Bahan dan sampah terkontaminasi dengan obat antineoplasma dimusnahkan di incenerator dengan suhu >1000 oC

J. Pemberian Obat Kemoterapi yang Aman

Untuk memberikan obat kemoterapi parenteral yang aman, ikuti petunjuk berikut:
1. Sebelum pemberian kemoterapi, perawat mengkaji pengetahun pasien/ keluarga tentang pengobatan, memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasien dan dokuemntasikan dalam catatan pasien
2. Sebelum pemberian kemoterapi, perawat meninjau kembali hasil pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan (darah lengkap dan kimia darah), jika nilai abnormal ditemukan, perawat menghubungi dokter untuk penangan lebih lanjut dan dokumentasikan hal ini dengan benar.
3. Sebelum tiap dosis kemoterapi diberikan, dua perawat secara indenpenden memverifikasi informasi berikut:
a. Verifikasi protocol dan semua perhitungan yang digunakan dosis kemoterapi (misalnya luas permukaan tubuh, dosis/m2 luas permukaan tubuh, dosis/kg BB dsb).
b. Verifikasi label kemoterapi terutama terhadap order/ resep obat kemoterapi yang meliputi: nama pasien, nama obat, dosis, rute, cairan pencampur (diluent), lama pemberian)
c. Verifikasi jarak waktu antara pemberian dosis kemoterapi terakhir dengan dosis berikutnya
4. Sebelum obat kemoterapi diberikan, verifikasi identititas pasien sebagai berikut:
a. Untuk pasien rawat inap, perawat mengidentifikasi nama pasien, nomor rekam medis, nama pasien ditempat tidur dan label obat kemoterapi.
b. Untuk pasien rawat jalan, pasien menanyakan pada pasien nama lengkap pasien, tempat tanggal lahir, nomor rekam medis
5. Perawat menggunakan alat pelindung diri secara lengkap (jubah, sarung tangan, masker dan google).
6. Sebelum memberikan obat kemoterapi secara intravena melalui infus, perawat memberi cairan infuse yang di programkan dokter untuk mengkaji kelancaran aliran infuse dan mengobservasi tanda dan gejala infiltrasi (bengkak atau hematoma)
7. Setiap memulai memberikan obat kemoterapi secara infuse, dua orang perawat menverifikasi kecepatan aliran infuse antara yang diprogramkan dokter dan yang ada pada label obat kemoterapi.
8. Selama pemberian obat kemoterapi, perawat memberikan cairan pembilas yang diprogramkan dokter diantara obat kemoterapi yang berbeda untuk membilas dan membersihkan selang infuse dari obat yang diberikan sebelumnya
9. Perawat melakukan pengkajian untuk mengetahui kelancaran aliran infuse dan mengobservasi tanda-tanda vital secara periodic minimal 2 kali selama pemberian obat.
10. Obat-obat yang vesikan yang diberikan secara intravena melalalui infuse diberikan melalui kateter vena sentral (central venous access catheter) dan periksa kelancarannya
11. Jika diduga atau telah terjadi ekstravasasi dari obat kemoterapi yang vesikans, ikuti kebijakan rumah sakit untuk penanganan ekstavasasi dari obat kemoterapi yang vesikans dan laporkan pada dokter penanggungjawab.
12. Jika diduga atau telah terjadi efek samping obat, laporkan kepada dokter penangggungjawab dan ikuti kebijakan rumah sakit tentang penanganan reaksi atau efek samping obat.

Pemberian obat kemoterapi oral
Jangan menghancurkan obat kemoterapi oral, kirim ke bagian farmasi jika membutuhkan obat kemoterapi oral yang dihancurkan dan dihaluskan.
Pakai sarung tangan dengan benar (sarung tangan double), baju pelindung (jubah) dan penutup wajah.
Tempatkan obat pada tempat obat disposibel dan berikan pada pasien
Ambil semua alat atau benda yang telah digunakan untuk persiapan pemberian obat oral pada pasien termasuk sarung tangan, tempat obat, pembungkus obat untuk dibuang ditempat sampah berlabel sampah sitotoksik.

Pemberian obat kemoterapi melalui infuse
Pakai alat pelindung diri yang lengkap (sarung tangan, jubah, penutup wajah, google, penutup kepala terutama jika kemungkinan terjadinya risiko percikan.
Gunakan lapisan plastic disposibel dibawah sambungan selang infuse
Setelah melaksanakan pemberian obat melalui infuse, semua alat pelindung diri, botol infuse dengan selang yang tersambung dan linen yang tekontaminasi serta plastic pengalas ditempatkan dalam dimasukan ke dalam kantong plastic tertutup/ diikat dan masukkan dalam tempat sampah khusus untuk obat-obat berbahaya.
Jubah yang dipakai ketika memberikan obat kemoterapi harus dibuka ketika meninggalkan kamar pasien dan mengganti segera jika terkontaminasi obat.

Pemberian obat kemoterapi melalui injeksi bolus
Pakai alat pelindung diri yang lengkap (sarung tangan, jubah, penutup wajah, google, penutup kepala terutama jika kemungkinan terjadinya risiko percikan.
Gunakan lapisan plastic disposibel dibawah tangan pasien untuk mengantisipasi ceceran obat.
Tutupi dengan kasa steril ditempat tusukan jarum untuk menghindari semprotan ke lingkungan sekitar terutama saat penusukan dan pencabutan alat suntik
Setelah selesai pemberian, tempatkan benda-benda terkontaminasi dan alat pelindung diri yang digunakan pada plastic yang diikat dan dibuang ditempat sampah khusus.
Jubah yang dipakai ketika memberikan obat kemoterapi harus dibuka ketika meninggalkan kamar pasien dan mengganti segera jika terkontaminasi obat.
Pemberian obat kemoterapi melalui injeksi intramuskuler atau subkutan
Pakai alat pelindung diri yang lengkap (sarung tangan, jubah, penutup wajah, google, penutup kepala terutama jika kemungkinan terjadinya risiko percikan
Alat suntik dipasang dengan erat dan jarum dan gunakan jarum dengan ukuran yang sesuai
Jangan membuang udara yang ada di dalam tabung suntikan menggunakan jarum suntikan yang digunakan untuk menyedot dari vial atau ampul, ganti dengan yang baru buang udara dan jangan sampai obat keluar dari jarum.
Setelah pemberian jangan menutup kembali jarum suntik, atau membengkokan atau menghancurkan jarum suntik.
Buang alat suntik yang masih tersambung dengan jarumnya ke dalam tempat sampah khusus yang tahan tusukan.
Buka alat pelindung diri dan tempatkan pada kantong plastic tertutup dan buang ditempat sampah khusus untuk obat-obat berbahaya.

Pemberian obat kemoterapi kedalam rongga tubuh (termasuk kedalam pleura atau kandung kencing)

Pakai alat pelindung diri yang lengkap (sarung tangan, jubah, penutup wajah, google, penutup kepala terutama jika kemungkinan terjadinya risiko percikan
Gunakan lapisan plastic disposibel dibawah pasien untuk mengantisipasi ceceran obat
Lapisi dengan kasa steril pada sambungan untuk mengurangi potensi semprotan obat ke lingkungan sekitar terutama saat menyambung atau membuka sambungan
Klam kateter setelah pemberian obat untuk meminimalkan aliran balik obat
Setelah pemberian obat dan waktu yang dibutuhkan telah terpenuhi, buka klam untuk mengumpulkan cairan residu ke dalam kantong drainage.
Tangani cairan tubuh yang keluar (urine atau cairan pleura) sebagai cairan tubuh yang terkontaminasi obat kemoterapi.
Buang alat atau benda yang telah digunakan untuk pemberian obat kemoterapi
Buka semua alat pelindung diri dan tempatkan pada plastic dan diikat dan buang ditempat sampah khusus untuk obat-obat berbahaya.

Penanganan pasien setelah pemberian kemoterapi.
Kewaspadaan perawat terhadap darah dan cairan tubuh pasien yang diberikan obat kemoterapi dilakukan selama 48 jam.
a. Gunakan alat elindung diri lengkap ketika menangani cairan tubuh terutama urin
b. Sarankan pada pasie laki-laki untuk kencing sambil duduk.
c. Sarankan klien untuk menggunakan toilet atau bedpan/ urinal dan ekskreta ini segera dibuang.
d. Bersihkan toilet pasien dengan benar
e. Buang system drainage yang digunakan pasien secara menyeluruh termasuk system drainage untuk cairan pleura, asites dan cairan tubuh lainnya.
f. Buang benda-benda disposibel yang terkontaminasi cairan tubuh pasien terutama dalam 48 jam pertama setelah pemberian obat kemoterapi.
g. Tempatkan linen yang terkontaminasi pada tempat khusus dan kemudian untuk dicuci.
Lindungi kulit klien yang tidak utuh dari eksresi atau cairan tubuh pasien
a. Bersihkan kulit dengan sabun dan air.
b. Pasang barrier perineal atau daerah perirektal ketika buang aing besar atau buang air kecil.

K. Rekomendasi Untuk Penanganan Kemoterapi yang Aman

Banyak literatur yang dapat dijadikan acuan untuk penanganan obat-obat berbahaya termasuk obat kemoterapi agar aman bagi petugas kesehatan. Karena di Indonesia belum banyak peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah mengenai hal ini, perawat dapat menelaah literatur luar negeri yang dipublikasikan secara luas ke seluruh dunia. Literatur yang dapat dijadikan acuan misalnya American Society of Health-System Pharmacists (ASHP) yang telah mempublikasikan rekomendasi penanganan yang aman obat-obat berbahaya pada tahun 1985, The Occupational Safety & Health Administration (OSHA) yang telah mempublikasikan petujuk untuk penanganan yang aman, pengontrolan pemaparan kerja terhadap obat-obat berbahaya yang dipublikasikan tahun1986. Oncology Nursing Society (ONS) juga telah mengeluarkan petunjuk dan rekomendasi praktis berhubungan dengan kemoterapi pada tahun 1988(Polovich, 2005). Publikasi yang paling akhir adalah dari NIOSH tentang NIOSH Alert (NIOSH, 2004a,b) dan Publikasi NIOSH tentang Antineoplastic agent, Occupational Hazards in Hospital (NIOSH, 2004c).

Rekomendasi penanganan yang aman terhadap obat-obat berbahaya seperti obat kemoterapi berfokus pada metoda untuk mengurangi pemaparan obat-obat berbahaya di tempat kerja termasuk di rumah sakit. Rekomendasi ini didasarkan pada konsep control hirarki berasal dari hygiene industri. Penggunaan istilah hirarki adalah sengaja. Hal ini mengimplikasikan agar metode yang digunakan untuk pengontolan bahaya di tempat kerja lebih efektif (Polovich, 2005). Rekomendasi tersebut diurutkan dari yang paling efektif ke yang kurang efektif, seperti yang berikut:

1. Menghilangkan bahaya (Eliminating the hazard)
Cara yang paling efektif untuk mencegah paparan obat kemoterapi ditempat kerja, tetapi saat ini adalah sesuatu yang sangat mustahil sebelum adanya terapi pengganti yang aman untuk obat-obat kemoterapi.
2. Kontrol engineering (control engineering)
Merupakan mesin atau peralatan yang didesain untuk mencegah paparan obat kemoterapi pada petugas kesehatan. Kabin atau cabinet berventilasi seperti Biological safety cabinet atau isolator merupakan contoh dari control enjinering. Alat ini didesain untuk melindungi pekerja dari aerosol/ uap/ gas berasal dari obat kemoterapi saat melakukan persiapan pemberian obat tersebut.
Alat untuk memindahkan atau mengantar obat dengan system tertutup juga diperlukan dalam control enjinering ini. Alat ini didesain untuk mencegah kebocoran atau perembesan obat kemoterapi dari wadah satu ke wadah yang lainnya.
3. Kontrol administratif (administrative control)
Meliputi kebijakan, prosedur, jadwal praktik dan metode lain yang membatasi sejumlah tenaga kesehatan untuk terpapar obat-obat berbahaya termasuk obat kemoterapi. Beberapa rumah sakit di luar negeri membuat tempat khusus untuk persiapan dan pemberian obat kemoterapi. Tujuannya adalah untuk meminimkan petugas kesehatan yang terpapar.
Pendidikan dan pelatihan petugas rumah sakit juga sangat penting sebagai kontrol administratif. Berikut daftar pelatihan yang harus didapat petugas kesehatan yang akan menangani obat-obat berbahaya termasuk obat-obat kemoetarpi:
a. Daftar obat-obat berbahaya [termasuk daftar obat kemoterapi]
b. Risiko potensial untuk terpapar
c. Rute pemaparan
d. Penyimpanan obat
e. Penggunaan dan pemeliharaan Biological Safety Cabinet
f. Penggunaan alat pelindung diri
g. Praktik kerja yang baik
h. Pemindahan atau transport obat
i. Pembuangan sampah
j. Pengelolaan tumpahan [obat]
k. Menjaga pencatatan
l. Ketrampilan melakukan uji
4. Kontrol praktik kerja (work-practice control)
Merupakan cara yang khusus menangani obat-obat berbahaya termasuk obat kemoterapi, yang tujuannya tetap yaitu mencegah paparan pada petugas kesehatan. Contoh praktik kerja yang aman untuk seseorang yang menyiapkan dan memberikan obat kemoterapi adalah: menggunakan teknik tekanan negative saat mencampur tepung obat, menggunakan saluran yang terkunci pada peralatan infuse, mengeratkan dan mengunci selang infuse sebelum memasukan obat kemoterapi dalam system ini dan menggunakan system tanpa jarum.
5. Alat pelindung diri (personal protective equipment/ PPE)
Alat pelindung diri (APD) memberikan suatu barrier antara tenaga kesehatan dengan obat kemoterapi selama pencampuran dan pemberian obat tersebut. APD ini semestinya telah diujicoba untuk memastikan bahwa APD tersebut memberi perlindungan yang aman kepada petugas kesehatan, sehingga mencegah terjadinya kontak langsung dengan obat melalui obsorbsi atau inhalasi. Untuk obat-obat yang berbahaya, APD yang direkomendasikan adalah (NIOSH, 2004c).
a. Sarung tangan double. Telah diuji dengan obat-obat berbahaya, bebas dari bedak, terbuat dari lateks, nitril atau neoprene.
b. Baju pelindung. Bersifat protektif terhadap bahan kimia, disposibel, sekali pakai, berlengan panjang, berkancing dibelakang.
c. Pelindung mata. Untuk mencegah semprotan dari uap atau tepung obat. Biasanya menggunakan google.
d. Masker hidung/ pernafasan. Untuk mencegah terhirupnya aerosol atau uap/ tepung obat kemoterapi. Menggunakan masker yang terstandarisasi dan teregister NIOSH.
Gambar Sarung tangan yang menutupi lengan jubah pelindung
Sumber: Worksafe Victoria (2003)

L. Penanganan Paparan pada Petugas dan Tumpahan Obat Kemoterapi

Penanganan terhadap petugas kesehatan yang terpapar obat sitotoksik adalah sebagai berikut:
1. Lepas alat pelindung diri dan baju yang telah terkontaminasi dengan hati-hati untuk mencegah perluasan paparan.
2. Cuci daerah yang terkena secepatnya dengan sabun dan air.
3. Jika terkena mata, aliri mata dengan air atau pencuci mata isotonic minimal 15 menit, segera bawa ke unit emergensi dan laporkan dokter mata.
4. Bawa segera tenaga kesehatan yang terpapar ke unit emergensi untuk mendapat penanganan lebih lanjut
5. Laporkan ke manajer yang bertanggungjawab
6. Laporkan kejadian ke K3 RS

Pengelolaan ceceran obat kemoterapi sebagai berikut
Hanya petugas yang terlatih yang membersihkan ceceran obat kemoterapi.
Secepatnya diberi tanda dan beri peringatan kepada staf yang lain bahwa telah terjadi ceceran obat kemoterapi pada tempat yang diberi tanda.
Pakai alat pelindung diri lengkat dan gunakan sarung tangan double
Gunakan masker dianjurkan oleh NIOSH
Tempatkan kasa atau handuk yang menyerap diatas ceceran
Ambili pecahan kaca dengan menggunakan alat atau skop kecil dan buang pecahan kaca ke dalam tempat sampah khusus yang tahan tusukan.
Bersihkan daerah ceceran obat tiga kali dengan menggunakan detergen yang kemudian dibilas dengan air, dimulai dari area terkontaminasi kemudian daerah sekiranya.
Buka alat pelindung diri dan buang ditempat sampah khusus.

M. Penutup

Perlu kerjasama multidisiplin untuk memberikan obat kemoterapi yang aman terutama antara farmasis, dokter dan perawat. Alat pelindung diri menjadi sangat penting untuk melindungi tenaga kesehatan dalam pemberian obat kemoterapi termasuk alat biological safety cabinet yang digunakan untuk penyiapan obat keoterapi. Perlu tempat khusus untuk penyiapan dan pemberian obat kemoterapi pada pasien. Kebijakan san standar operating prosedur diperlukan dalam pelaksanaan pemberian obat kemoterapi yang aman.

DAFTAR PUSTAKA

American Society Clinical Oncology, (2004). Criteria for facility and personnel for administration of parenteral systemic antineoplastic therapy, Journal of Clinical Oncology, 22 (22): 1 – 3

Aschenbrenner, D.S., Cleveland, L.D., & Venabel, S.J. (2002). Drug therapy in nursing, Philadelphia: Lippincott William & Wilkins

Betz, C.L. & Sowden, L.A. (2000). Mosby pediatric nursing reference (4th ed), St Louis: Mosby

Brown, S. (t tahun). Safe handling of chemotherapeutic Agents, diakses 17 Desember 2005, diperoleh dari http://www.uspharmacist.com/oldformat.%20asp?url=newlook/file/Feat/ChemoAgents.htm&pub_id=8&article_id=918

Dougherty, L., (2000). Cental venous access devices, Journal Nursing Standard, 12 (43): 45 – 50

Haughney, A. (2004). Nausea and vomiting in end-stage cancer, These symptom can be treated most efectivelly if theunderlying cause is konown, AJN, diakses tanggal 17 Desember 2005, diperoleh dari http://%20www.nursingcenter.com/prodev/cearticles/asp?tid=577266.pdf

Health Service Executive (2003). Safe handling of cytotoxic drugs, diakses 17 Desember 2005, diperoleh dari http://www.hse.gov.uk/pubns.misc615.pdf

McCann, J.A.S. (2003). Nursing procedures and protocols, Philadelphia: William & Wilkins

McDiarmid, M., Presson, A.C., Weaver, V., & Fujikawa, J. (1995). Controlling occupational exposure to hazardous drugs, Am J Health-Syst Pharm, 52: 1669 – 1685

NIOSH (2004a). Antineoplastic agent – Occupational hazards in hospital, diakses 17 Desember 2005, diperoleh dari http://www.cdc.gov/niosh/%20docs/2004-102.htm

NIOSH (2004b). Antineoplastic agent – Occupational hazards in hospital, diakses 17 Desember 2005, diperoleh dari http://www.cdc.gov/niosh/docs/2004-102.pdf

NIOSH (2004c). NIOSH alert, preventing occupational exposures to antineoplastic and other hazardous drugs in health care setting, Center for Desease Control and Prevention

Otto, S.E. (1997). Pocket guide to oncology nursing, St Louis: Mosby

Polovich, M. (2004). Developing a hazardous drugs safehandling program, Community Oncology, 2 (5): 403 – 405
Polovich, M. (2004). Safe handling of hazardous drugs, Online Journal of Issues in Nursing, 9 (3), diakses 2 Mei 2005, diperoleh dari http://www.nursingworld.org/ojin/topic25/tpc25_5.htm

Porth, CM., (2005), Pathophysiology, Concepts of altered health states, (7th eds.), Philadelphia: Lippincott Willian & Wilkins

Power, L., & Polovich, M. (2004). Safe handling of hazardous drugs, diakses 17 Desember 2005, diperoleh dari http://www.oagpo.com/asset/pdf/cme-ceu/sicor_ceu.pdf

Power, L., & Polovich, M. (2005). New approaches in safe handling of hazardous drugs, diakses 17 Desember 2005, diperoleh dari http://www.ons.org/publication/journals/pdfs/300541.pdf

Sutarni, N. (2003a). Asuhan keperawatan pada pasien dengan kemoterapi, Makalah disampaikan pada Simposium Deteksi Dini Kanker dan Penatalaksanaan Dengan Metode Kemoterapi yang Aman, yang diselenggarakan oleh Akademi Keperawatan Muhammadiyah Samarinda dengan PPNI Komisariat RSUD A. Wahab Sjahranie Samarinda, tidak dipublikasikan

Sutarni, N. (2003b). Prosedur Penatalaksanaan Kemoerapi yang Aman, Makalah disampaikan pada Simposium Deteksi Dini Kanker dan Penatalaksanaan Dengan Metode Kemoterapi yang Aman, yang diselenggarakan oleh Akademi Keperawatan Muhammadiyah Samarinda dengan PPNI Komisariat RSUD A. Wahab Sjahranie Samarinda, tidak dipublikasikan

Vanchieri, C., (2005). Health hazard to community practice nurse: The ‘big worry’, Community Oncology, 2 (3): 277 – 279

Vega-Stromberg, T., (2005). Advances in colon cancer chemotherapy, Nursing implication, Home Healthcare Nurse, Philadelphia: Lippincott William & Wilkins, 23 (3) 154 – 166, diakses 17 Desember 2005, diperoleh dari http://%20www.nursingcenter.com/prodev/cearticles/asp?tid=577266.pdf

Wade III, J.L., Goldstein, M., Nystrom, J.S., Presan, C.A., Rausch, P.G., (1997). Criteria for facility and personnel for administration of parenteral systemic antineoplastic therapy, Journal of Clinical Oncology, 15 (11): 3416 – 3417, diakses 17 Desember 2005, diperoleh dari

http://www.%20jco.org/misc/15.11.3416.pdf

Victoria WorkCover Autority (2003). Handling cytotoxic drug in the workplace, Melbourne: Worksafe Victoria

Worthington, K. (2000). Chemotherapy on the unit, Protecting the provider as well as patient. American Journal of Nursing, 100 (4), diakses tanggal 17 Desember 2005, diperoleh dari http://www.nursingworld.org/AJN/2000/APR/Health.htm

Ziegler, E., Mason, H.J., & Baxter, P.J. (2002). Occupational exposure to cytotoxic drugs in two UK oncology ward, Occup Environ Med. 59: 608 – 612, diakses 19 Desember 2005, diperoleh dari http://oem.bmjjornals.com/cgi/content/full/59/9/608

Maridi MD,Ns, M.Kep (2009). Penatalaksanaan kemoterapi yang aman, diakses 21 Juli 2009, diperoleh dari

http://maridimdirjo.blogspot.com

Only God Can Judge Me


Ilmu ibarat emas, di mana pun tempatnya, kedudukannya terhormat.
Pendidikan adalah senjata paling dahsyat yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia.( Nelson Mandela )
Jangan takut untuk belajar sesuatu. Ilmu pengetahuan adalah harta karun yang selalu dapat kita bawa kemanapun tanpa membebani.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.
Aku mencintaimu bukan karena dirimu, tetapi dikarenakan bagaimana aku ketika bersamamu (Roy Croft)
Cinta pertama begitu mempesona, karena tidak didasari bahwa suatu waktu bisa berakhir (Benyamin Franklin)

Tidak ada yang namanya hari yang tidak penting dalam kehidupan manusia ini. Setiap saat waktu berharga. (Alexander Woollcott)
Ada dua hal yang harus Kamu lupakan: Kebaikan yang kamu lakukan kepada orang lain dan kesalahan orang lain kepadamu. (Sai Baba)
Keidupan mempunyai dua batasan, yaitu harapan dan ajal. Dengan harapan, kehidupan lestari. Dengan ajal, kehidupan berakhir. (Anonim)
Kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan tidak ada pada barang-barang yang kita punya. Ia ada di dalam diri kita. (Wilhelm Richard Wagner)
Kebaikan hati lebih penting dari kebijaksanaan, dan menyadari hal ini adalah awal dari kebijaksanaan tersebut. (Theodore Isaac Rubin)
Persahabatan Bukan sesuatu yang di pelajari disekolah. Tapi jika tidak mempelajari arti persahabatan, Kamu benar-benar tidak belajar apapun.
Kehilangan kekayaan dapat dicari kembali, kehilangan kepercayaan sulit didapatkan kembali. Oleh karenanya jagalah kepercayaan yang diberikan.
Doa memberi kakuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian kepada orang yang ketakutan…

…semoga bermanfaat…

Who Am I


Di sebuah majalah bulanan, ada artikel tentang “Siapakah aku” yang diawali dan diakhiri dengan cuplikan kalimat yang pernah dibaca oleh penulisnya,

……… diawali dengan sebuah kisah:

Seorang guru spiritual, Ajahn Chah, pernah ditanya: “Guru, di manakah tempat tinggal anda ?”
“Saya tidak tinggal dimanapun,” jawab Ajahn Chah.
“Bukankah Guru tinggal di vihara ?” tanya seorang jamaah dengan penasaran.
“Saya tidak tinggal di mana pun. Karena sebenarnya tidak ada Ajahn Chah. Karena Ajahn Chah tidak ada, maka tidak ada yang tinggal di suatu tempat,” jawab sang Guru.

……… diakhiri dengan sebuah syair:

Saat aku mati, tubuhku akan dikubur dan kembali ke tanah.
Jiwaku menunggu penghakiman di akhir zaman.
Dan ruhku akan kembali kepada Sang Khalik.

……… ditutup oleh penulisnya dengan sebuah pertanyaan:

SIAPA atau APAKAH “aku” PADA KALIMAT DI ATAS ?

SIAPA …. ?

“aku” pada kalimat di atas bukanlah “diri” karena “aku” hanyalah sebuah pusat kesadaran yang dalam ilmu psikologi, dengan menggunakan permodelan Freud, adalah EGO, yang merupakan muara penyaluran dari Internal Desire [ID] dan Super-Ego. Mana saja yang dominan maka dialah yang menguasai, normalnya adalah keseimbangan atau kompromi antara keduanya. ‘Internal desire’ yang berasal dari perasaan dan keinginan dasar manusia atau hasrat manusiawi bertemu dengan Super-Ego yang berasal dari nilai-nilai hasil olah-pikiran [premis dasar] akan terlahirkan atau berkontak dengan lingkungan melalui Ego.

“aku”, dalam pengertian pusat kesadaran badaniyyah seperti yang di atas, dalam khazanah-khazanah shufisme adalah “aku” yang harus ditiadakan atau tidak boleh ada karena hanya akan menjadi hijab [1] antara manusia dengan Rabbnya. “aku” ini pula yang kadangkala muncul pada saat tidur, yang menampilkan obsesi-obsesi atau keinginan-keinginan atau perasaan-perasaan yang kuat yang dimiliki atau yang masih dipendam dalam pikiran yakni yang tidak bisa direalisasikan atau di aktualisasikan dalam bentuk lisan maupun tindakan.

Ketika “aku” sudah tiada atau menjadi tiada, melalui sebuah proses transformasi-diri, maka “Aku” akan tampil dan itu adalah “aku yang sesungguhnya” atau “kesadaran (dari) diri yang sejati”.

Diri yang sejati, adalah “diri” yang telah melintasi beberapa mauthin [2] dan masih akan melintasi berbagai mauthin lagi, dari sejak mauthin penciptaan QS.[76]:1 atau sering disebut mauthin “nuur”, mauthin pengambilan janji atau mauthin perjanjian atau sering disebut mauthin “alastu” QS.[7]:172, mauthin rahim, mauthin dunia, mauthin barzakh, kemudian “diri yang sejati” akan mati di saat kiamat QS.[3]:185, dan dibangkitkan kembali bersama dengan tubuh [jawa: badan wadhag]  di mauthin penghisaban dan kemudian memasuki mauthin akhirat.

Siapakah dia ? Dia, “diri yang sejati”, adalah “JIWA” atau An-Nafsi, yang ada dalam tubuh, yang detik ini entah sedang apa karena tidak atau belum memberitahukan kehadirannya kepada “aspek kesadaran” kita yang ragawi ini.

Catatan kaki:
[1] hijab adalah pembatas atau penghalang atau pemisah [jawa: aling-aling] bisa berupa tirai atau dinding atau apapun, yang memisahkan sesuatu dengan sesuatu lainnya.
[2] mauthin, adalah sebuah wilayah, bagian dari sebuah alam, yang menjadi tempat keberadaan dan tempat kediaman dan kehidupan makhluk. Sebagai contoh: alam dunia adalah alam sekitar kita, termasuk benua-benua, lautan, samudera, bumi, kerak bumi, bintang-bintang, dll. tetapi mauthin kita hanya sebatas permukaan bumi dengan langit yang sejauh pandangan mata kita saja.

Hatimu Dengan Cermin


Tanggalkan kekhawatiranmu
dan jadilah bersih hati,
bagaikan permukaan sebuah cermin
yang tiada ada bercaknya.

Bila ‘kau dambakan cermin yang bening,
lihatlah kepada dirimu sendiri,
dan tengoklah kebenaran apa adanya,
yang dipantulkan oleh cermin.

Bila besi bisa digosok
hingga berkilau bagai cermin
gerangan penggosok macam apa
yang cermin hatimu butuhkan ?

Antara cermin dan hati

ada satu perbedaan nyata:
hati menyimpan rahasia
sedangkan cermin tidak.

Orang Seperti Saya


…Terlalu lama anda tinggalkan saya…

…Terlalu lama anda biarkan saya menunggu…

…Hingga saya terbiasa hidup sendiri, tanpa anda disini…

…Apapun alasannya saya terima…

…Mencoba jadi orang yang setia…

…Hingga saya terbiasa hidup sendiri, tanpa anda temani…

…Apakah saat ini saya masih mengharap anda kembali…?

…Biarkan saat ini, buang janji anda dan anda bebas pergi…

…Setidaknya saya sepenuh hati…

…Walaupun anda tak juga membalasnya…

…Dan anda kehilangan ORANG SEPERTI SAYA, apakah anda tahu…?

…Sudahlah saat ini saya tak terlalu mengharap anda bisa kembali…

…Biarkan mulai kini, buang janji anda dan anda bebas pergi…

…DAN ANDA SIA – SIA’KAN ORANG SEPERTI SAYA…