Who Am I


Di sebuah majalah bulanan, ada artikel tentang “Siapakah aku” yang diawali dan diakhiri dengan cuplikan kalimat yang pernah dibaca oleh penulisnya,

……… diawali dengan sebuah kisah:

Seorang guru spiritual, Ajahn Chah, pernah ditanya: “Guru, di manakah tempat tinggal anda ?”
“Saya tidak tinggal dimanapun,” jawab Ajahn Chah.
“Bukankah Guru tinggal di vihara ?” tanya seorang jamaah dengan penasaran.
“Saya tidak tinggal di mana pun. Karena sebenarnya tidak ada Ajahn Chah. Karena Ajahn Chah tidak ada, maka tidak ada yang tinggal di suatu tempat,” jawab sang Guru.

……… diakhiri dengan sebuah syair:

Saat aku mati, tubuhku akan dikubur dan kembali ke tanah.
Jiwaku menunggu penghakiman di akhir zaman.
Dan ruhku akan kembali kepada Sang Khalik.

……… ditutup oleh penulisnya dengan sebuah pertanyaan:

SIAPA atau APAKAH “aku” PADA KALIMAT DI ATAS ?

SIAPA …. ?

“aku” pada kalimat di atas bukanlah “diri” karena “aku” hanyalah sebuah pusat kesadaran yang dalam ilmu psikologi, dengan menggunakan permodelan Freud, adalah EGO, yang merupakan muara penyaluran dari Internal Desire [ID] dan Super-Ego. Mana saja yang dominan maka dialah yang menguasai, normalnya adalah keseimbangan atau kompromi antara keduanya. ‘Internal desire’ yang berasal dari perasaan dan keinginan dasar manusia atau hasrat manusiawi bertemu dengan Super-Ego yang berasal dari nilai-nilai hasil olah-pikiran [premis dasar] akan terlahirkan atau berkontak dengan lingkungan melalui Ego.

“aku”, dalam pengertian pusat kesadaran badaniyyah seperti yang di atas, dalam khazanah-khazanah shufisme adalah “aku” yang harus ditiadakan atau tidak boleh ada karena hanya akan menjadi hijab [1] antara manusia dengan Rabbnya. “aku” ini pula yang kadangkala muncul pada saat tidur, yang menampilkan obsesi-obsesi atau keinginan-keinginan atau perasaan-perasaan yang kuat yang dimiliki atau yang masih dipendam dalam pikiran yakni yang tidak bisa direalisasikan atau di aktualisasikan dalam bentuk lisan maupun tindakan.

Ketika “aku” sudah tiada atau menjadi tiada, melalui sebuah proses transformasi-diri, maka “Aku” akan tampil dan itu adalah “aku yang sesungguhnya” atau “kesadaran (dari) diri yang sejati”.

Diri yang sejati, adalah “diri” yang telah melintasi beberapa mauthin [2] dan masih akan melintasi berbagai mauthin lagi, dari sejak mauthin penciptaan QS.[76]:1 atau sering disebut mauthin “nuur”, mauthin pengambilan janji atau mauthin perjanjian atau sering disebut mauthin “alastu” QS.[7]:172, mauthin rahim, mauthin dunia, mauthin barzakh, kemudian “diri yang sejati” akan mati di saat kiamat QS.[3]:185, dan dibangkitkan kembali bersama dengan tubuh [jawa: badan wadhag]  di mauthin penghisaban dan kemudian memasuki mauthin akhirat.

Siapakah dia ? Dia, “diri yang sejati”, adalah “JIWA” atau An-Nafsi, yang ada dalam tubuh, yang detik ini entah sedang apa karena tidak atau belum memberitahukan kehadirannya kepada “aspek kesadaran” kita yang ragawi ini.

Catatan kaki:
[1] hijab adalah pembatas atau penghalang atau pemisah [jawa: aling-aling] bisa berupa tirai atau dinding atau apapun, yang memisahkan sesuatu dengan sesuatu lainnya.
[2] mauthin, adalah sebuah wilayah, bagian dari sebuah alam, yang menjadi tempat keberadaan dan tempat kediaman dan kehidupan makhluk. Sebagai contoh: alam dunia adalah alam sekitar kita, termasuk benua-benua, lautan, samudera, bumi, kerak bumi, bintang-bintang, dll. tetapi mauthin kita hanya sebatas permukaan bumi dengan langit yang sejauh pandangan mata kita saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s